Translate

Thursday, April 10, 2014

Me-manage Dunia Agar Berkah, oleh : Irwansyah Al Maidany, Lc

                           PENGAJIAN DHUHA MASJID BAITUSSALAM


                                        Me-manage Dunia Agar Berkah
                                            Irwansyah Al Maidany,  Lc


                             Jum’at,  26 Jumadil Ula 1435 H – 28 Maret 2014



Assalamu’alaikum wr.wb.,

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,
Dahulu, Buya Hamka rohimahumullah, pernah meng-ilustrasikan (menggambar-kan) bahwa perjalanan kehidupan manusia di dunia ini tak ubahnya seperti orang berlayar naik kapal.  Begitu kapal mulai beranjak dari dermaga pelabuhan, ditiuplah peluit, lalu diumumkan dengan mikrofon, bahwa kapal segera hendak berangkat dan tujuan kapal ini adalah menuju Jaziratul Akhirah.  

Tetapi sebelum sampai ke Jaziratul Akhirah (Pulau Akhirat) kita akan singgah dahulu di sebuah pulau yang bernama Jaziratud Dun-ya (Alam dunia). Bila kita sampai ke Pulau Alam Dunia itu maka boleh para penumpang keluar dari kapal  dan singgah di Pulau Alam Dunia itu hanya satu jam untuk mencari bekal di Pulau Dunia dan selanjutnya  kita akan melanjutkan perjalanan menuju  Jaziratul Akhirat. 

Setelah batas waktu satu jam, ditiupkan peluit sebagai pemberitahuan agar seluruh penumpang kembali ke kapal untuk melanjutkan perjalanan, tetapi penumpang yang kembali masuk ke dalam kapal hanya sepertiga. Padahal sejak dari pelabuhan kapal penuh dengan penumpang. Yang duapertiga tinggal di pulau Dunia, terkecoh dan tertipu dengan kehidupan dunia.

Bagaimana Islam memandang kehidupan dunia dan me-manage kehidupan  agar dunia ini menjadi berkah.  Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam AlQur’an Surat Ali Imran ayat 185 :

سُوۡرَةُ آل عِمرَان

كُلُّ نَفۡسٍ۬ ذَآٮِٕقَةُ ٱلۡمَوۡتِ‌ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوۡنَ أُجُورَڪُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ‌ۖ فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَ‌ۗ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلۡغُرُورِ (١٨٥)


Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

Di dunia ini tidak ada yang pasti dan abadi, tetapi yang pasti adalah mati. Karena dunia merupakan kesenangan yang memperdayakan maka banyak orang yang terlupa (terkecoh, teperdaya).  Tidak ingat akan mati dan tidak ingat Akhirat.

Dan sebagaimana disebutkan dalam ayat  tersebut:  Barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.
Itulah kesuksesan yang sesungguhnya. Sukses bukan diukur dengan “kacamata dunia”, tetapi sukses adalah di Akhirat yaitu masuk surga. 

Dunia hanyalah kesenangan yang memperdayakan, yang semu, yang menipu.   Maka jangan tertipu dengan kesenangan yang semu, tetapi dunia harus kita manage agar kehidupan dunia tidak menipu kita.

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surat Al Ankabut ayat 64 :
سُوۡرَةُ العَنکبوت


وَمَا هَـٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا لَهۡوٌ۬ وَلَعِبٌ۬‌ۚ وَإِنَّ ٱلدَّارَ ٱلۡأَخِرَةَ لَهِىَ ٱلۡحَيَوَانُ‌ۚ لَوۡ ڪَانُواْ يَعۡلَمُونَ (٦٤)


Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.

Bahwa dunia ini hanyalah senda-gurau dan main-main.  Maka bermainlah dengan amal-kebajikan. Jangan bermain dengan amal-kemaksiatan, dan dosa. Dan jangan sampai kita dipermainkan oleh dunia.

Selanjutnya Islam memandang dunia, agar kita bisa me-manage dunia ini, ternyata Islam (AlQur’an) tidak mengingkari bahwa manusia punya naluri cinta kepada dunia.
Fitrah (naluri) manusia disebutkan dalam Firman Allah subhanahu wata’ala dalam Surat Ali Imran ayat 14 :

سُوۡرَةُ آل عِمرَان

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٲتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلۡبَنِينَ وَٱلۡقَنَـٰطِيرِ ٱلۡمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلۡفِضَّةِ وَٱلۡخَيۡلِ ٱلۡمُسَوَّمَةِ وَٱلۡأَنۡعَـٰمِ وَٱلۡحَرۡثِ‌ۗ ذَٲلِكَ مَتَـٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا‌ۖ وَٱللَّهُ عِندَهُ ۥ حُسۡنُ ٱلۡمَـَٔابِ (١٤)

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Islam (AlQur’an) membenarkan manusia cinta kepada dunia, tetapi hendaklah ter-manage dengan baik.   Memang dunia ini oleh Allah subhanahau wata’ala dibuat indah, dan juga dalam pandangan manusia cinta terhadap lawan jenis.
Itu adalah fitrah.  Laki-laki mencintai perempuan, demikian pula sebaliknya. Maka fitrah itu dalam Islam dibingkai dengan pernikahan. 

Memang ada yang di luar fitrah,  menyimpang, yaitu laki-laki suka dengan laki-laki (Homo)  dan perempuan suka dengan perempuan (Lesbian).  Dan itu pernah terjadi pada kaum Nabi Luthalaihissalam tetapi dihabisi mereka oleh Allah subhanahu wata’ala dengan didatangkan bencana hujan batu dan akhirnya mereka habis, mati karena mereka menyimpang dari fitrah manusia.

Selanjutnya fitrah (naluri) manusia adalah  mencintai anak-anak dan keturunan.
Seorang bapak mencari nafkah seharian, pulang sampai di rumahnya disambut oleh isteri dan keluarganya, dipeluknya satu-persatu isteri dan anak-anaknya, Hilanglah rasa lelah kerja seharian mencari nafkah.  Itu karena cinta kepada isteri dan anak-anaknya. Itulah fitrah manusia. Namun demikian cinta kepada isteri dan anak-anak hendaknya jangan sampai melupakan cinta kepada Allah subhanahu wata’ala.

Selanjutnya dalam ayat tersebut disebutkan fitrah manusia adalah cinta kepada harta-benda, emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak  dan sawah-ladang.  Untuk zaman sekarang harta  berupa simpanan uang di bank, mobil, rumah dst.

Pada akhir ayat disebutkan: Dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). 
Maksudnya, bahwa cinta kepada keturunan, harta-benda yang merupakan kesenangan dunia, harus diupayakan agar bisa mengantar kita mencapai tempat yang terbaik yaitu Surga Allah subhanahu wata’ala.

Maka yang harus ditanamkan dalam hati kita adalah : Harta yang saya miliki, harus mengantarkan saya, isteri dan anak-anak saya ke Surga Allah subhanahu wata’ala.   Jangan sampai harta dan kedudukan yang saya dapatkan ini menghantarkan keluargaku ke Neraka.
Dengan demikian  maka kita tidak akan men-dzolimi hak-hak orang lain. 

Dalam sebuah Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Dunia ini bila dibandingkan dengan Akhirat adalah seperti jari-jari telunjuk yang dicelupkan ke dalam air laut, lalu jari telunjuk itu diangkat, dan ada air yang melekat (terbawa) pada telunjuk maka air yang melekat pada jari telunjuk itu ibarat dunia, dibandingkan luasnya lautan sebagai ibarat Akhirat.

Itulah misal yang Rasulullah berikan kepada kita bagaimana perbandingan antara dunia dan Akhirat.  Betapa kecilnya dunia ini dibandingkan dengan Akhirat. Maka jangan tertipu oleh dunia.  Justru jadikan dunia ini sebagai fasilitas untuk masuk surga.

Agar tidak tertipu dengan dunia maka sikap kita adalah :
1.     Orientasi kita adalah Akhirat.  Di dunia ini kita adalah musafir, singgah sebentar di Pulau Alam Dunia dan kita sedang menuju Pulau Akhirat, negeri yang kekal.
2.     Menjauhkan diri dari tipuan dunia.  Jangan sampai tertipu. Kitalah yang mengatur dunia, jangan sampai kita diatur oleh dunia. Jangan sampai kita bekerja membanting tulang hanya untuk dunia. Tetapi ingatlah Akhirat. Perbanyak amal-sholih. Senang memakmurkan masjid. Di manapun berada, bekerja di manapun, hatinya selalu terpaut dengan masjid.  Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam Hadits shahih:  Di hari kiamat kelak akan ada orang-orang yang diperlakukan khusus oleh Allah subhanahu wata’ala, yaitu tujuh macam orang yang penting antara lain adalah orang-orang yang hatinya selalu terpaut di masjid.
3.     Mempersiapkan kematian sebelum ajal menjemput, dengan memperbanyak amal-sholih.

Dalam sebuah Hadits shahih, Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam ditanya oleh sahabat, siapakah orang yang paling cerdas ?  Beliau menjawab : Orang yang paling cerdas adalah orang selalu mengingat kematian. Kedua, adalah orang yang banyak mempersiapkan kematian ketika di dunia.
Karena ingat mati maka ia akan mempersiapkan di dunia dengan segala macam kebaikan dan amal-sholih.

Agar ter-manage kehidupan dunia dengan baik (tidak tertipu oleh dunia), maka:

1.     Sesuai dengan sabda Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam dalam Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Tarmidzi : Perbanyaklah kamu mengingat pemutus kelezatan (maksudnya : kematian).
2.     Sabda Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam : Maukah kalian aku beritahu orang terbaik di antara kalian ? Para sahabat menjawab : Mau.   Lalu beliau bersabda : Yang terbaik di antara kalian adalah orang yang diberikan umur panjang dan baik pula amal-perbuatannya.

Sekian bahasan, mudah-mudahan bermanfaat.
SUBHANAKALLAHUMMA WABIHAMDIKA ASYHADU AN LAILAHA ILLA ANTA, ASTAGHFIRUKA WA ATUBU ILAIK.

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

                                                               __________

No comments:

Post a Comment