Translate

Thursday, August 30, 2018

DAHSYATNYA ISTIGHFAR SEBAGAI JALAN KELUAR, oleh : Dr. Muhbib Abdul Wahab, MA.


MAJELIS DHUHA MASJID BAITUSSALAM


Jum’at, 24 Agustus 2018 / 12 Dzul-Hijjah 1439

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Prolog: Sekelumit Kisah

    Alkisah, pada suatu hari, secara bergantian, Hasan al-Basri, (21-110 H), seorang sufi yang terkenal sangat shaleh dan wara’. didatangi tiga orang yang ingin berkonsultasi dan meminta solusi atas persoalan yang dihadapinya.
     Orang pertama mengadukan masalah ladangnya yang kering, puso, dan gagal panen akibat sudah lama tidak turun hujan, sehingga dia merasa cemas akan masa depan anak-anaknya yang semakin hari semakin membutuhkan banyak biaya.
      Orang kedua yang menghadap Hasan al-Bashri curhat soal pernikahannya yang belum kunjung dikaruniai keturunan padahal sudah bertahun-tahun menikah, dan  sudah  mencari aneka pengobatan yang memungkinkannya mendapat keturunan (“buah hati”). Akan tetapi, usahanya belum juga membuahkan hasil.
   Sementara itu, orang ketiga mengadukan nasibnya yang takkunjung berubah sebagai fakir miskin. Selama ini ia hidup di bawah garis kemiskinan. Ia merasa tidak pernah tahu hari  ini akan makan apa, karena ia hanya seorang buruh serabutan. Ia sudah bosan menjadi orang miskin, dan ingin menjadi orang kaya dan hidup sejahtera.
  Kepada ketiga orang itu, Hasan al-Basri pun memberi nasehat sama. Nasehat beliau, “Perbanyaklah istighfar di rumahmu, di jalan, di pasar, di tempat kerja, di manapun dan kapanpun, karena  engkau tidak tahu kapan ampunan Allah itu turun”! Beliau lalu membacakan firman Allah SWT berikut:

فَقُلْتُ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًا ﴿١٠﴾ يُرْسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا ﴿١١﴾ وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَٰلٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّٰتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَٰرًا ﴿١٢﴾ مَّا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا ﴿١٣﴾ (سورة نوح: 10-13)

Artinya: “Maka aku katakan kepada mereka, mohonlah ampun (beristighfarlah) kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia itu Maha Pengampun. (Dengan beristighfar) niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) sungai-sungai. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?” (QS. Nuh/29: 10-13)

       Mereka bertiga  lalu merenung, melakukan refleksi, dan  berintrospeksi diri. Masing-masing mengakui dan berkata dalam hati: “Selama ini aku termasuk kurang beristighfar kepada Allah, sekaligus kurang percaya kepada kebesaran-Nya”.
       Mereka sepakat untuk menjadikan istighfar sebagai jalan keluar pertama dan paling utama dalam menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi.
       Setelah mengamalkan nasehat Hasan al-Bashri tersebut, tidak lama kemudian, Allah SWT pun menurunkan hujan, memberikan keturunan, dan menganugerahi kekayaan kepada tiga orang tersebut, sehingga ketiga orang itu mendapat jalan keluar dan memperoleh apa yang selama ini mereka dambakan.

Pokok Bahasan

   Mengapa istighfar (memohon ampun) itu sangat dahsyat sebagai jalan keluar atau solusi spiritual untuk mengatasi kesulitasn dan meraih kesuksesan hidup dunia dan akhirat?
       Konsep Dasar (Makna) istighfar dan sifat Allah sebagai Pengampun
       Apa hukum dan keutamaan istighfar?
       Bagaimana seharusnya kita beristighfar?
       Apa formulasi (ungkapan) dalam beristighfar kepada Allah Swt.?

Konsep Dasar (Makna) Istighfar

       Kata “istighfar” berasal dari kata ghafara  (غفر) yang sering diterjemahkan “mengampuni” . Kata ini pada asalnya bermakna menutupi(ستر) Dalam kitab Nuzhatul Muttaqîn fî Syarhi Riyâdhish Shâlihîn dijelaskan:  وأصل الغفر الستر (asal makna “ghafara” adalah menutupi).
       Istighfar adalah memohon ampun/ampunan  kepada Dzat yang Maha Pengampun atas segala kesalahan dan dosa yang diperbuat, baik disengaja maupun tidak, besar maupun kecil.
       Dalam buku “‘Menyingkap’ Tabir Ilahi – Al-Asmâ’ al-Husnâ dalam Perspektif al-Qur’an”, M. Quraish Shihab menerangkan 3 sifat Allah yang terambil dari akar kata ini, yaitu:  غَافِرْ (Ghâfir), غَفَّارْ (Ghaffâr), dan غَفُوْر (Ghafûr).
       Ibnul ‘Arabi mengemukakan beberapa pendapat meyangkut perbedaan kata-kata tersebut. Ghâfir adalah pelaku. Maksudnya sekadar menetapkan adanya sifat ini kepada sesuatu, tanpa memandang ada/tidaknya yang diampuni atau ditutupi.

Sifat Allah sebagai Pengampun

       Allah adalah al-Ghaffâr yang salah satu artinya Dia menutupi dosa hamba-hamba-Nya karena kemurahan dan anugerah-Nya.
       Perbedaan antara Ghaffâr dan Ghafûr adalah Ghaffâr yang menutupi aib/kesalahan di dunia, sedangkan Ghafûr menutupi aib di akhirat.
       Ghafûr dapat juga berarti banyak memberi maghfirah, sedang Ghaffâr mengandung arti banyak dan berulangnya maghfirah serta kesempurnaan dan keluasan cakupannya. Dengan demikian, Ghaffâr lebih dalam dan kuat kandungan maknanya dari Ghafûr.  Karena itu, ada yang berpendapat bahwa ampunan Ghaffâr dapat mencakup orang-orang yang bermohon maupun yang tidak bermohon.
       Imam al-Ghazali mengemukakan bahwa al-Ghaffâr adalah yang Maha menampakkan keindahan dan menutupi keburukan. Dosa-dosa adalah bagian dari sejumlah keburukan yang ditutupi-Nya dengan jalan tidak menampakkannya di dunia serta mengenyampingkan siksa-Nya di akhirat.
       Menurut Imam al-Ghazali, sifat Al-Ghafûr dan al-Ghaffâr , keduanya bermakna sama, hanya saja Ghafûr mengandung semacam mubâlaghah (superlative, penekanan) yang tidak dikandung oleh kata al-Ghaffâr, karena al-Ghaffâr menunjukkan mubâlaghah dalam maghfirah (pengampunan menyeluruh/penutupan yang rapat) di samping berulang-ulang, sedangkan Ghafûr menunjuk kepada sempurna dan menyeluruhnya sifat tersebut.
       Allah itu Ghafûr dalam arti sempurna pengampunan-Nya hingga mencapai puncak tertinggi dalam maghfirah.

Mengapa harus beristighfar?

       Istighfar bukan hanya diperintahkan oleh Allah kepada hamba-Nya yang berdosa. Allah yang Maha Pengampun mengetahui betul bahwa hamba-hamba-Nya siang dan malam pasti pernah melakukan dosa, sehingga sangatlah wajar hamba harus memohon ampunan kepada-Nya.
       Hamba (manusia) harus proaktif memohon dan terus merasa membutuhkan pertolongan Tuhan. Salah satu jalan untuk mendapatkan pertolongan itu adalah memohon ampunan-Nya. Kalau Allah sudah mengampuni kesalahan-kesalahan hamba, niscaya permohonannya yang lain pasti akan dikabulkan.

       وَعَن أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: قَالَ اللَّهُ : "يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِى ، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِى ، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا، ثُمَّ لَقِيتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئاً لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً " (أخرجه الترمذي وغيره).
Artinya: Anas ra meriwayatkan bahwa saya mendengar Rasulullah Saw bersabda, Allah berfirman: “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau memohon kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku ampuni segala dosamu yang telah kamu lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika dosamu sampai setinggi langit lalu engkau meminta ampun kepada-Ku, niscaya Kuampuni. Wahai anak Adam, jika engkau datang kepada-ku dengan membawa kesalahan seluas bumi lalu engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku sedikitpun, niscaya Aku datang kepadamu dengan ampunan seluas bumi pula.”(HR. at-Turmudzi dan lainnya).

       Persoalan “lambat”-nya memperoleh keturunan, boleh jadi disebabkan oleh kurangnya hamba “mendatangi, mendekat, dan curhat” langsung dengan Allah SWT. Allah sedemikian sayang kepada hamba-Nya, bahkan ampunan Allah itu jauh lebih luas dan terbuka, daripada “keterbukaan” hamba itu sendiri untuk mau memohon ampunan dan kasih sayang-Nya.
       Karena itu, sebagai solusi spiritualnya, perbanyaklah beristighfar dan berdoa kepada-Nya, lebih-lebih pada waktu sepertiga malam terakhir. Di waktu yang termasuk kategori superprime time ini Allah menjanjikan ampunan dan pengabulan doa bagi hamba-Nya yang mau mendekati-Nya, karena Dia di sepertiga malam terakhir itu turun ke langit dunia.

وعَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : " يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ" (رواه البخاري ومسلم)

Artinya: “Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Tuhan kami yang Mahasuci dan Mahatinggi itu turun ke langit dunia setiap malam, saat sepertiga malam terakhir, seraya berfirman: “Siapa yang memohon kepada-Ku, pasti akan aku penuhi permohonannya. Siapa yang meminta-Ku, pasti akan Aku beri dia; dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, pasti Aku ampuni dosanya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Allah itu Maha Pengampun

       Dan barangsiapa berbuat kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampunan kepada Allah, niscaya dia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS an-Nisa’: 110)

ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ عَمِلُوا۟ ٱلسُّوٓءَ بِجَهَٰلَةٍ ثُمَّ تَابُوا۟ مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ وَأَصْلَحُوٓا۟ إِنَّ رَبَّكَ مِنۢ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿١١٩

Artinya : “Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertobat setelah itu dan memperbaiki (dirinya), sungguh, Tuhanmu setelah itu benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang”. (QS an-Nahl: 119)

       وَإِذَا جَآءَكَ ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِـَٔايَٰتِنَا فَقُلْ سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَىٰ نَفْسِهِ ٱلرَّحْمَةَ أَنَّهُۥ مَنْ عَمِلَ مِنكُمْ سُوٓءًۢا بِجَهَٰلَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنۢ بَعْدِهِۦ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُۥ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿٥٤

Dan apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami datang kepadamu, maka katakanlah, "Salāmun 'alaikum (selamat sejahtera untuk kamu)." Tuhanmu telah menetapkan sifat kasih sayang pada diri-Nya, (yaitu) barang-siapa berbuat kejahatan di antara kamu karena kebodohan, kemudian dia bertobat setelah itu dan memperbaiki diri, maka Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS al-An’am: 54)

Hukum Beristighfar

  Selain berdoa itu merupakan keharusan bagi seorang hamba yang faqir (sangat membutuhkan) dan dha’if (lemah) di hadapan Tuhan, beristighfar juga dapat meningkatkan kekuatan hamba dalam menghadapi berbagai persoalan: kekuatan mental, kekuatan spiritual, dan kekuatan hati kita semua. Allah berfirman:

وَيَٰقَوْمِ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِ يُرْسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا۟ مُجْرِمِينَ ﴿٥٢

Artinya : Dan (Hud berkata), "Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras, Dia akan menambahkan kekuatan di atas kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling menjadi orang yang berdosa." (QS. Hud/11: 52)
       Berdasarkan ayat tersebut dan lainnya, dapat ditegaskan bahwa hukum beristighfar bagi Muslim itu adalah wajib, karena hamba pasti pernah bersalah, berdosa, dan menzhalimi diri sendiri. Selain itu, boleh jadi hamba tidak dapat menunaikan apa yang menjadi kewajibannya kepada Allah Swt.

Saat Memperoleh Kemenangan & Kesuksesan, Istighfar juga Diperintahkan

    Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat. (QS. an-Nashr: 1-3)

Keutamaan Istighfar

1.    Orang yang beristighfar itu adalah orang yang selalu berkesadaran dan berketetapan hati untuk mau mengingat dan mendekat kepada Allah SWT.

Istighfar merupakan pintu masuk atau kunci mendapatkan kasih sayang Allah. Orang yang mengingat-Nya pasti tidak akan dilupakan oleh-Nya, permohonannya pasti akan dipenuhi. Mengingat Allah dan bersyukur kepada-Nya merupakan kunci disayang oleh-Nya.

Allah berfirman:
 فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ ﴿١٥٢
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu; dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS al-Baqarah/2: 152)

2.   Membiasakan istighfar digaransi oleh Nabi Muhammad SAW untuk selalu dimudahkan segala urusan. Sabda Nabi, “Siapa yang membiasakan istighfar, maka Allah selalu memberikan jalan keluar bagi setiap kesempitan hidupnya, memberikan kemudahan bagi setiap kesulitannya, dan memberinya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.” (HR Abu Daud).

Ampunan dari Allah SWT merupakan awal dari terbukanya pintu-pintu langit yang insya Allah disusul dengan limpahan aneka karunia-Nya yang tidak terhingga banyaknya.

3.   Istighfar dapat menjauhkan kita dari murka dan azab Allah. Bahkan Allah sangat murka kepada orang yang tidak mau beristighfar. Dengan beristighfar, pada dasarnya kita memohon limpahan kasih sayang dan kemurahan-Nya.
Allah berfirman:
 وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ ﴿٣٣

“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedangkan kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun.” (QS al-Anfal/8: 33).
Ampunan Allah SWT menandai hilangnya murka-Nya kepada hamba-Nya; jika hamba tidak dimurkai, berarti sangat disayangi. Kalau hamba disayangi, pasti apapun diminta, akan diberi.

4.    Istighfar merupakan amalan jitu untuk menjauhkan diri dari godaan syetan. Menurut Ibn al-Jauzi, “setan atau iblis itu membinasakan anak Adam dengan (merayunya) berbuat dosa, akan tetapi mereka itu membinasakanku dengan beristighfar dan mengucapkan la ilaha illa Allah.”

Jika setiap Muslim mau beristighfar dengan sepenuh hati, tulus, ikhlas, dan khusyu’ (penuh penghayatan dan pemaknaan), niscaya syetan menjauh darinya, dan hati menjadi semakin bersih.

5.      Istighfar itu amalan utama yang tidak pernah ditinggalkan oleh para Nabi dan Rasul. Bahkan Nabi SAW, yang ma’shum (terpelihara dari berbuat dosa) dan telah digaransi oleh Allah masuk surga, tetap selalu beristighfar lebih dari seratus kali dalam sehari semalam.

Nabi Adam AS misalnya pernah beristighfar berikut:

مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ ﴿٢٣ قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ

 “Keduanya (Adam dan istrinya) berdoa: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri sendiri, jika Engkau tidak mengampuni dan menyayangi kami, niscaya kami tergolong orang-orang yang merugi.” (QS al-A’raf/7: 23)

Dari kisah Nabi Yunus yang “ditelan” ikan raksasa dan beliau sempat berada dalam tiga kegelapan (gelapnya perut ikan, gelapnya lautan yang dalam, dan gelapnya malam yang kelam), dengan munajat dan istighfar yang terus-menerus dibacanya, akhirnya beliau diselamatkan oleh Allah (dimuntahkan oleh ikan, dan tidak jadi dimakan ikan). Munajat dan istighfar yang beliau terus baca adalah:

وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَٰضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِى ٱلظُّلُمَٰتِ أَن لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿٨٧

Artinya: “Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, "Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim." (QS. al-Anbiya’/21: 87)

فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ وَنَجَّيْنَٰهُ مِنَ ٱلْغَمِّ وَكَذَٰلِكَ نُۨجِى ٱلْمُؤْمِنِينَ ﴿٨٨

Artinya: “Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman." (QS. al-Anbiya’/21: 88)
Melalui istighfar, hamba dengan segenap kelemahan dan kekurangan yang ada, memulangkan persoalan ini kepada Allah, seraya memohon ampun dan pertolongan dari-Nya, karena Allah berfirman:

  وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ﴿٦٠

“Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (berdoa kepada-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.” QS. Al-Mu’min/40: 60)

Secara teologis, ayat tersebut menegaskan bahwa orang yang malas dan tidak mau berdoa, termasuk beristighfar berarti orang yang sombong, tidak tahu diri, dan cenderung durhaka kepada Allah SWT.  Karena itu, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa yang tidak meminta (berdoa) kepada Allah, maka Dia akan marah/murka kepada-Nya.” (HR. Ahmad, Turmudzi, dan Ibn Majah).

Bagaimana Beristighfar?

1.       Beristighfar harus dilakukan terus-menerus, tidak boleh malas dan kurang semangat.

Doa dan istighfar merupakan sumber kekuatan, harapan, dan kenikmatan Mukmin, karena hatinya senantiasa tertambat melalui doa dengan Sang Kekasih yang Maha Penyayang. Oleh sebab itu, Nabi SAW bersabda: “Orang yang paling lemah adalah orang yang tidak bisa berdoa; sedangkan orang yang paling bakhil adalah orang yang pelit memberi salam (kepada sesama Muslim).” (HR. Ibn Hibban).

2.       Beristighfar dalam situasi apapun.

  Beristighfar hanya pada waktu susah dan meninggalkannya pada saat bahagia merupakan perilaku orang lupa (diri dan lupa Allah). 
     “Dan apabila Kami beri kenikmatan kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa.” (QS Fushshilat/41: 51)
      Dalam konteks ini, Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa yang ingin agar doanya di waktu kesusahan dikabulkan oleh Allah, maka hendaklah ia memperbanyak doa di waktu lapang dan bahagia.” (HR. Turmudzi dan al-Hakim).

3.  Agar dikabulkan, istighfar dan doa harus “dikawal dan dibarengi” dengan beramal, berusaha dan berbuat baik sesuai dengan apa yang dimohonkan kepada Allah.

       Jika misalnya memohon kekayaan dari Allah, maka hamba harus bekerja keras, halal dan thayyib, untuk meraih yang dimohonkan itu. Selain itu, hamba juga tidak boleh berputus asa, bahkan harus selalu berbaik sangka dengan Allah bahwa doanya pasti dikabulkan (sesuai dengan kebijaksanaan Allah).

   Ketahuilah, “Allah itu Maha Baik, dan tidak menyukai kecuali yang baik-baik,” kemudian Nabi SAW menyebutkan mengenai seseorang yang datang dari perjalanan jauh dengan rambut acak-acakan (kusut) dan wajah berdebu, mengangkat tangannya ke langit sambil berdoa: Ya Tuhanku, ya Tuhanku.  Selanjutnya beliau berkata: “Bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan oleh Allah, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya haram” (HR. Muslim).

4.       Untuk lebih memantapkan dan mendekatkan terkabulnya istighfar, kita juga dianjurkan untuk banyak bersedekah, karena sedekah itu, antara lain, dapat menolak bala, menyuburkan dan membuat karunia yang diberikan oleh Allah itu berlimpah dan penuh berkah.
       Selain bersedekah, kita dianjurkan pula berpuasa sunah, sehingga kondisi mental spiritual kita menjadi lebih bersih dan dekat dengan Allah SWT.
       Singkatnya, melalui istighfar ini, kita juga perlu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah, agar istighfar dan doa yang kita “panjatkan” dikabulkan Allah SWT, pintu-pintu keberkahan dari langit menjadi terbuka, dan apa yang diturunkan dari langit membawa keberkahan bagi kita semua dan makhluk lainnya. Allah berfirman:

 وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ وَلَكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ [الأعراف: 96]

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. al-A’raf/7: 96)

Doa Penghulu Istighfar




Arti Doa Penghulu Istighfar
       ”Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, Tidak ada tuhan yang haq kecuali Engkau. Engkau yang menciptakanku, sedang aku adalah hamba-Mu dan aku di atas ikatan janji -Mu dan akan menjalankannya dengan semampuku, aku berlindung kepadamu dari segala kejahatan yang telah aku perbuat. Aku mengakui-Mu atas nikmat-Mu terhadap diriku dan aku mengakui dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang mengampuni segala dosa kecuali Engkau” (HR. al-Bukhari no. 6306)

Keutamaan Sayyidul Istighfar

مَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا ، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِىَ ، فَهُوَ
مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهْوَ مُوقِنٌ بِهَا ، فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ
يُصْبِحَ ، فَهْوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ  (رواه البخاري)
       Artinya:  “Barangsiapa mengucapkannya pada siang hari dan meyakininya, lalu dia mati pada hari itu sebelum waktu sore, maka dia termasuk penghuni surga. Dan barangsiapa mengucapkannya pada malam hari dalam keadaan meyakininya, lalu dia mati sebelum waktu pagi, maka dia termasuk penghuni surga.” (HR. al-Bukhari)

Istighfar: Esensi Doa setelah Qiyamul Lail

Setelah shalat Tahajjud/Qiyamul Lail, Nabi SAW membiasakan membaca doa yang esensinya adalah istighfar:

       اللهم لك الحمد أنت قيّم السموات والأرض ومن فيهن، ولك الحمد لك ملك السموات والأرض ومن فيهن، ولك الحمد أنت نور السموات والأرض ومن فيهن، ولك الحمد أنت مالك السموات والأرض ومن فيهن، ولك الحمد أنت الحق ووعدك الحق، ولقاؤك حق، وقولك حق، والساعة حق، والجنة حق، والنار حق، والنبيون حق، ومحمد صلى الله عليه وسلم حق، والساعة حق. اللهم لك أسلمتُ، وبك آمنتُ، وعليك توكلت، وإليك أنبت، وبك خاصمت، وإليك تحاكمت، فاغفرلي ما قدمت وما أخرت، وما أسررت وما أعلنت، أنت المقدم وأنت المؤخر، لا إله إلا أنت، ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم (رواه البخاري)
Arti Doa setelah Shalat Qiyamul Lail

"Ya Allah, hanya untuk-Mu segala puja dan puji, Engkau adalah Yang maha mengurusi langit dan bumi beserta isinya; Engkau adalah Pemilik kerajaan langit dan bumi beserta isinya; Engkau adalah cahaya langit dan bumi beserta isinya; Engkau adalah raja/penguasa langit dan bumi beserta isinya. Hanya milik-Mu ya Allah segala puja dan puji. Engkau adalah Maha Benar, Janji-Mu benar, Pertemuan dengan-Mu benar. Perkataan-Mu benar. Surga dan neraka itu benar (ada). Para Nabi itu benar. Muhammad Saw benar, dan hari kiamat juga benar. Hanya kepada-Mu aku berislam, beriman, bertawakkal, kembali, berselisih, dan berhukum. Karena itu, ampunilah dosaku yang lampau dan yang belakangan, yang kusembunyikan dan terlihat terang-terangan. Tiada tuhan selain-Mu, dan tiada daya dan upaya melainkan karena-Mu." (HR al-Bukhari).


Formulasi (Ungkapan) Istighfar

Sayyidul istighfar (Embahnya istigfar) tersebut merupakan ungkapan yang paling afdal, namun juga ada bentuk formulasi lainnya, antara lain :

v   أستغفر الله (saya memohon ampun kepada Allah)

v   رب اغفر لي (Ya Tuhanku, ampunilah dosaku)

v  اللهم إني ظلمت نفسي فاغفر لي  فإنه لا يغفر الذنوب إلا أنت.(Ya Allah, sungguh aku telah berbuat aniaya terhadap diri sendiri, maka ampunilah aku, karena tidak ada yang dapt mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau)

v   رب اغفر لي وتب علي إنك أنت التواب الغفور . (Ya Tuhanku, ampunilah aku, dan terimalah taubatku. Engkau adalah Dzat yang Maha Penerima taubat dan Maha Pengampun)

v   أستغفر الله العظيم الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه (Aku memohon ampun kepada Allah yang tiada tuhan sebagai Dia yang Mahahidup dan Maha Pemelihara, dan aku bertaubat kepada-Nya)

Penutup

       Istighfar itu bacaan mulia yang seharusnya sering diucapkan oleh Muslim, kapan saja, terutama setelah selesai shalat, lebih-lebih pada sepertiga malam terakhir.
       Konsistensi dalam beristighfar memang merupakan salah satu jalan keluar atau solusi spiritual bagi persoalan keseharian kita.
       Istighfar bukan hanya merupakan kewajiban hamba, melainkan kebutuhan spiritual yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt.
       Istighfar di waktu-waktu mustajab seperti sepertiga terakhir di setiap malam tentu mempunyai keistimewaan yang luar biasa, karena kesucian hati sang pendoa membuat  Allah yang Mahasuci semakin sayang dengan hama-Nya, sehingga Allah SWT sangat menghargai dan mencintai hamba-Nya yang beristighfar.
    Ciri orang bertaqwa itu, antara lain, suka berbuat baik, sedikit tidur (bukan sedikit-sedikit tidur), dan selalu beristighfar di waktu sahur (sepertiga malam terakhir), sebagaimana firman Allah berikut:
      Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan mata air, mereka mengambil apa yang diberikan Tuhan kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat baik; Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam; dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah). (QS. adz-Dzariyat: 15-18)

"Mudah-mudahan amalan istighfar ini selalu menjadi jalan keluar kita semua, sehingga kualitas iman, ilmu, dan amal shalih kita dapat terus kita jaga dan tingkatkan."
 Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Dr. Muhbib Abdul Wahab, MA. (Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) 




No comments:

Post a Comment