Translate

Wednesday, January 15, 2014

Qolbun Salim - Hati Yang bersih # 2, oleh : Ustadz Ahmad Susilo


Qolbun Salim  -  Hati Yang bersih #2
Ustadz Ahmad Susilo
                     
Jum’at,  14 Dzulqo’dah 1434  H – 20 September 2013



Assalamu’alaikum wr.wb.

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,
Bahasan kali ini adalah kelanjutan bahasan sebelumnya yaitu tentang Qolbun Salim (Hati yang bersih), di mana secara garis besar kita sudah membahas berdasarkan ayat-ayat AlQur’an maupun Hadits tentang orang yang memiliki Qolbun Salim, Qolbun Maridh dan Qolbun Mayyit. Dan kita berusaha sebaik-baiaknya agar kita selalu memilik Qolbun Salim.

Untuk senantiasa memiliki Qolbun salim setiap orang harus berupaya.  Sebagaimana seseorang mempunyai harta, tentu harus dijaga, dipelihara.  Apalagi kalau harta itu berupa makhluk yang bernyawa, misalnya suami (isteri) kita, anak dan keluarga kita, atau hewan peliharaan yang kita miliki. Kalau harta itu ingin tetap hidup, bersih, maka harus dipelihara, dirawat, diberi makan, diberi minum, dibhersihkan, dijaga dst.

Penentu segala amal adalah Hati. Dalam sebuah Hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dari sahabat  bernama Nu’man bin Basyir, dalam hadits yang panjang,  Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam mengawali dengan kalimat :

“Sesungguhnya yang halal itu jelas, yang haram telah jelas, di antara keduanya ada yang subhat (samar), dan yang subhat itu jarang diketahui oleh manusia.  Kebanyakan manusia tidak mengetahui tentang ini, kecuali orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang senantiasa bersih hatinya. Maka barangsiapa yang menjauhkan diri dari yang subhat, maka orang itu telah menyelamatkan agamanya, dirinya dan kehormatannya”. 

Selanjutnya sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam : “Barangsiapa yang terjerumus dan memakai (menjalani) yang subhat, dan tetap berada dalam sesuatu yang subhat, sesungguhnya ia telah menjatuhkan dirinya kepada yang haram”.

Ingatlah bahwa segala sesuatu (tiap pemilik) ada batasnya. Dan Allah subhanahu wata’ala sebagai Pemilik Alam semesta ini memiliki batas-batas dan batas-batas Allah adalah segala apa yang diharamkan Allah, maka tinggalkanlah. Apa yang subhat, tinggalkanlah.

Di ujung Hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan :

“Ketahuilah bahwa di setiap jasad (tubuh) kita ada sekepal daging.  Apabila sekepal daging itu baik, maka baik pula seluruh jasadnya.  Sebaliknya apabila sekepal daging itu buruk (rusak), maka buruk (rusak) pula seluruh jasadnya itu.  Ketahuilah, sekepal daging itu adalah Hati Nurani”.

Dalam Hadits yang lain, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shollallahu ‘alaiihi wasallam bersabda : “Sungguh, Allah sekali-kali tidak melihat rupamu, tubuhmu, tampilanmu, pakaianmu atau hiasan yang kalian pakai, atau harta kedudukan dan pangkat yang kalian miliki, tetapi yang dilihat oleh Allah adalah Qolbumu (keikhlasan dalam hatimu), dan amal-amalmu”.

Maka Allah subhanahu wata’ala yang menciptakan dunia ini beserta isinya,  tidak pernah memuji dunia.  Tidak ada satu ayatpun dalam AlQur’an yang isinya memuji dunia, harta, kekuasaan atau harta.   Demikian pula Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah sekalipun dalam Hadits yang shahih, memuji dunia ini. Yang ditemukan dalam AlQur’an dan Hadits adalah justru celaan dan hinaan terhadap  dunia. 

Bukan maksudnya manusia dilarang mencari kekayaan dan dunia. Yang dilarang oleh Allah adalah apabila kekayaan dan seluruh apa yang dimiliki oleh seseorang baik kedudukan atau kekayaannya melalaikan dirinya dari Allah subhanahu wata’ala.  Karena biasanya manusia lalai kepada Allah, hatinya sakit bahkan sampai mati,  kalau sudah memiliki segala-galanya di dunia.

Maka dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sungguh yang aku takutkan terhadap kalian bukan kefakiran, kemiskinan, melainkan yang aku takutkan terhadap kalian adalah apabila kekayaan telah kalian raih, dunia dan harta telah kalian miliki.  Maka orang yang selalu mengejar harta, kedudukan, kekuasaan,  orang-orang tersebut telah celaka”.

Dalam Hadits yang disebutkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam : “Apabila ia diberi, ia ridho. Dan apabila tidak diberi, dia marah, ia tidak ridho. Maka celakalah orang-orang yang menghambakan diri kepada harta, dinar, dirham, kekayaan, kedudukan, pakaian yang indah-indah, asesoris dunia yang dimiliki, kalau Allah berikan ia ridho (senang) kalau Allah tidak beri maka ia tidak ridho”   Itulah orang yang hatinya sakit (Qolbun Maridh), bahkan sampai kepada hati yang mati (Qolbun Mayyit).

Nyatalah bahwa Allah dan Rasul-Nya tidak menginginkan hati kita (muslimin dan muslimat) terpaut dengan dunia.  Silakan meraih dunia, tetapi yang paling utama adalah : Dunia yang kita miliki gunakan untuk menjadikan kita Qolbun Salim. 

Apa itu makanan hati agar hati kita tetap Qolbun Salim ?
Berikut ini perumpamaan dari Ibnu Qoyyim Al Jauziyah : Seseorang yang mempunyai anak, agar si anak tumbuh dengan sehat dan bagus, tentu diberi makan dan minum.  Tentu memberikan makanan dan minuman tidak sembarangan, asal memberi,   tetapi akan dipilihkan makanan dan minuman yang terbaik untuk kesehatan dan pertumbuhan si anak.

Sebagaimana pelajaran di sekolahan, makanan yang baik adalah yang mengandung unsur 4 sehat 5 sempurna. Artinya menyehatkan dan menyempurnakan tubuh. Kalau tidak menyehatkan, makanan itu bukan menjadikan baik untuk tubuh, justru sebaliknya akan menjadi penyakit dan merusak tubuh.

Makanan Hati juga harus mengandung unsur 4 sehat 5 sempurna.  Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzy, dari seorang sahabat bernama Muaz bin Jabal yang bertanya : “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku suatu amal yang menyebabkan aku masuk surga dengan amal itu dan aku terhindar dari api neraka”. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Kamu beribadah kepada Allah dan jangan menyekutukan sesuatupun dengan Allah”.

Maka makanan  4 sehat, adalah amalan dari Rukun Islam, yaitu ibadah-ibadah wajib  (tentunya setelah Syahadat) ialah :

1.      Melakukan sholat,
2.      Membayar zakat,
3.      Puasa di bulan Romadhon
4.      Haji.

Maka empat amalan pokok wajib dari tiang agama ini jangan pernah ditinggal. Itulah makanan hati.   Kalau ada orang mengaku dirinya Islam, KTP-nya Islam, tetapi tidak pernah melakukan keempat rukun tersebut,  sesungguhnya orang tersebut hatinya tidak pernah diberi makanan hati.
Pengakuan Islam-nya dusta, bahkan boleh jadi ia kufur.

Karena Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda dalam Hadits shahih riwayat Imam Muslim, dari Jabir bin ‘Abdullah :  “Sesungguhnya tali penghubung seseorang apakah orang itu akan dinyatakan sebagai orang kafir atau musyrik, yaitu orang yang telah menyatakan dirinya Islam tetapi meninggalkan sholat”. 

Maka wajib hukumnya menjalankan empat unsur tersebut di atas. Itulah 4 sehat.  Maka siapa yang ingin memberikan makanan kepada Hati, berikan makanan 4 sehat sebagaimana tersebut di atas. Artinya jangan pilih-pilih, lakukan semuanya, sesuai dengan aturannya masing-masing.  

Adapun 5 sempurna sebagai makanan Hati adalah : Seluruh Ibadah yang Sunnah.  Yaitu sholat-sholat Sunnah, puasa Sunnah, shodakoh Sunnah, Umroh (Sunnah), semua yang sunnah-sunnah termasuk amal-perbuatan-baik di luar yang Fardhu-fardhu.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam Hadits riwayatkan oleh Imam Muslim, dari Jabir bin Abdullah : “Setiap perbuatan baikmu, (menolong sesama, amar ma’ruf nahi munkar, mengucapkan tasbih, tahmid) semua perbuatan baikmu itu adalah shodakoh (amal-amal sunnah), jangan engkau tinggalkan”.

Sementara pandangan pada umumnya orang suka menganggap remeh perbuatan Sunnah. Banyak orang yang mengatakan : Tidak dikerjakan tidak mengapa, toh bukan wajib. Demikian pandangan kebanyak orang.  Padahal itu pandangan yang salah.

Padahal Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam yang sudah dijamin masuk surga oleh Allah subhanahu wata’ala, tetapi beliau tidak pernah meninggalkan amalan-amalan Sunnah.  Semua dikerjakan oleh beliau. Sholat-sholat Sunnah itu lebih banyak dibandingkan dengan sholat wajib yang hanya lima kali sehari semalam.  Tetapi sholat Sunnah banyak sekali dan banyak pula rokaatnya. Misalnya sholat Malam Tahajud yang 11 rokaat plus dua rokaat sebelumnya, jadi ada 13 rokaat.  Belum lagi yang lain-lain, seperti sholat sunnah Rawatib, semua dikerjakan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.  Tidak pernah beliau tinggalkan.
Demikian pula puasa yang wajib hanya sebulan, tetapi yang sunnah-sunnah banyak sekali dan tidak pernah beliau tinggalkan.

Bagaimana dengan kita ?  Kita dengan gegabah mengatakan : Hanya Sunnah, tidak wajib, tidak dikerjakan tidak apa-apa.   Bahkan amal yang wajib saja sering ditinggalkan.  Lalu kita mengatakan : “Hatinya bersih”.  Orang-orang yang demikian itu bila ditanya kenapa tidak sholat, ia akan mengatakan : “Tidak sholat tidak mengapa, yang penting hati saya baik”.
Na‘udzubillah, hatinya sedang sakit tetapi ia mengatakan hatinya baik (Qolbun Salim). Orang itu tertutup hatinya, karena menganggap itu baik,  karena ia tidak memiliki ilmu.

Maka jangan tinggalkan 4 sehat 5 sempurna untuk makanan Hati, insya Allah hidup hati kita, tetapi belum tentu sehat. Bisa tidak sehat kalau “vitaminnya” tidak benar (bagus), tidak mengandung protein, tidak bergizi.
Contoh : Daging adalah makanan yang baik.  Tetapi bila daging itu benyak jeroan, banyak lemak,  dan daging yang dimakan dihangatkan diulang-ulang selama berbulan-bulan, tentunya daging tersebut sudah tidak mengandung protein atau gizi yang baik. Ketika dimakan akan menjadikan kenyang perut, tetapi akan membuat penyakit. Karena walaupun memenuhi unsur 4 sehat 5 sempurna, tetapi tidak mengandung gizi yang benar.

Padahal makanan hati harus mengandung gizi, protein dan vitamin-nya, yaitu : Ilmu.
Ilmu harus dimiliki sebelum beramal. Sholat adalah makanan hati, tetapi sholat yang dilakukan tanpa ilmu, tidak akan menjadi makanan hati.
Maka Allah subhanahu wata’ala menurukan ayat : Fawailul lil mushollin (Celakalah orang yang sholat, - Surat Al Ma’un).  Maksudnya, sholatnya dilakukan tanpa ilmu. Asal sholat saja.  Itulah sholat yang Riya, justru mencelakakan.

Orang yang shaum (berpuasa), apakah setiap orang berpuasa pasti baik ? Belum tentu. 
Hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Ahmad, dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa yang berpuasa tetapi tidak meninggalkan kata-kata dusta, kata-kata kotor, dan tetap melakukan  perbuatan bodoh lainnya, maka Allah tidak memiliki kepentingan dengan orang yang berpuasa itu untuk memberikan pahala-Nya”.

Artinya, sia-sia puasanya. Bukankah puasa itu termasuk makanan hati ? Kenapa tidak diterima oleh Allah subhanahu wata’ala ? Karena makanan itu tidak ada vitaminnya (proteinnya).  Dan protein dan vitamin untuk hati adalah Ilmu, yang wajib dimiliki oleh setiap orang Islam.  Maka menuntut Ilmu itu hukumnya wajib bagi setiap muslimin dan muslimat.

Menuntut ilmu tentunya di majlis-majlis ilmu (majlis Ta’lim). Dan ilmu yang harus dimiliki oleh setiap muslim dan muslimat adalah Ilmu Agama, Iljmu Aqidah, Ilmu Din, untuk amal ibadah. Maka menghadiri Majlis Ta’lim hukumnya wajib. Lihat Surat Mujadalah ayat 11 :

 Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Maka lapangkan hati kita, lapangkan ikhlas kita, untuk mendatangi Majlis Ta’lim di mana saja.  Niscaya Allah akan memberikan kelapangan kepada kita. Yaitu lapang hati, lapang nikmat, lapang rezki, lapang dalam hidup, dst.  Yaitu Majlis di mana disampaikan ilmu-ilmu yang Haq (AlQur’an dan Hadits), bukan sekedar Majlis. Dan setelah mendapatkan ilmu, amalkan. Dan Allah akan memberikan derajat yang lebih tinggi dari sekedar orang-orang yang beriman.

Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa ayang melapangkan dirinya untuk mendatangi majlis Ilmu  (Majlis Ta’lim), maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga”.

Artinya,  ilmu merupakan vitamin hati. Semua yang kita lakukan untuk ibadah, baik yang wajib maupun yang sunnah, harus disertai dengan Ilmu,  
Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surat Al Isra’ ayat 36 :

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Maksudnya, jangan ikut-ikutan tanpa ilmu (pengetahuan) tentang yang diikuti. Karena semua penglihatan, pendengaran dan hati akan diminta tanggungjawab oleh Allah subhanahu wata’ala kelak di Hari Kiamat. Maka banyak orang terjerumus ke dalam api neraka, karena pendengaran, pengilhatannya dan hatinya tidak dipergunakan untuk mencari Ilmu Allah, tidak digunakan untuk memahami aturan Allah, untuk mendengarkan ayat-ayat Allah, maka mereka (manusia) yang seperti itu tidak berbeda dengan binatang ternak.

Lihat Surat Al A’raaf ayat 179  Allah subhanahu wata’ala berfirman :

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka itulah orang-orang yang lalai.

Lebih banyak mana telinga dipergunakan untuk mendengar ayat-ayat AlQur’an atau untuk mendengarkan lagu-lagu dan musik, gunjingan, kemaksiatan, fitnah-fitnah, dst ? Kita bisa menjawab dalam diri kita masing-masing.

Padahal sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut : Siapa yang hatinya, matanya, telinganya tidak dipergunakan untuk memahami  ayat Allah (AlQur’an) dan aturan Allah, maka ia lebih sesat dan hina dibandingkan binatang ternak.

Apa penyempurna dari amal-ibadah yang kita lakukan ?  Itulah Ilmu.   Tanpa Ilmu bisa jadi manusia terjerumus dalam kesesatan.

Apakah manusia yang makanannya sudah diatur sedemikian baik dan sempurna, lalu tidak sakit ? Pasti sakit itu tiba. 
Orang yang sudah melakukan ibadah dengan baik, yang wajib, yang sunnah, semua dilakukan dengan baik, apakah manusia demikian itu akan terhindar dari penyakit Hati ? Tidak mungkin.  Pasti penyakit Hati akan ada.  Besar-kecilnya, tinggi-rendahnya, ringan-beratnya adalah sesuai dengan kemampuan kita mengatur hati kita.

Maka ketika hati kita sakit, ada obatnya, yaitu AlQur’an.   

Lihat Surat Al Israa’ ayat 82 :

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar(obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.

Orang yang beriman bila diatur oleh AlQur’an pasti akan tunduk. Maka AlQur’an itu akan menjadi obat apabila kita pelajari dengan baik.  Di sana ada perintah untuk sabar, ikhlas, tawakkal, dzikir, berserah-diri, jihad, ibadah, ada pula larangan-larangan.  Kalau AlQur’an itu kita pahami, lalu kita amalkan maka akan menjadi obat.  Cukupkah obat hanya sekedar dibaca ?

Lihat Surat Yunus ayat 57 Allah subhanahu wata’ala berfirman :

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Dalam ayat tersebut, “pelajaran” (AlQur’an)  bukan hanya dibaca tetapi harus dipelajari. Sementara itu di Indonesia AlQur’an hanya dibaca saja,  tidak dipelajari. Maka bagaimana akan sembuh hatinya kalau hanya dengan membaca.   Padahal Allah subhanahu wata’ala memerintahkan untuk mempelajari (AlQur’an), karena AlQur’an adalah pelajaran.  Siapa yang mempelajarinya,  memahami dengan baik dan mengamalkannya, maka AlQur’an akan menjadi obat bagi penyakit yang ada dalam dada, yaitu penyakit hati.

Maka banyak orang yang hatinya sakit, lalu membaca AlQur’an, tetapi tidak kunjung sembuh, karena ia tidak paham apa yang dibacanya. Padahal Allah memerintahlan : Pelajari, jangan hanya dibaca.   Maka kalau kita baca dengan baik sampai paham dan diamalkan dengan baik,  maka Allah sembuhkan penyakit hati kita.  AlQur’an itu menjadi petunjuk (Hidayah), serta rahmat bagi orang yang beriman.

Titik-beratnya adalah  Iman.  Artinya, bahwa orang yang beriman wajib mempelajari AlQur’an. Setidaknya AlQur’an berkaitan dengan hukum-hukum yang kita jalankan dalam keseharian. Allah tidak menyuruh kita hafal aeluruh ayat AlQur’an, karena Allah tahu, bahwa kita lemah.  Tetapi minimal ilmu-ilmu yang berkaitan makanan hati, harus kita ketahui. AlQur’an mengandung segala-galanya, komplit.   Maka orang yang hanya sekedar membaca belum tentu memahami.  Maka janganlah kita hanya ikut-ikutan.  Karena AlQur’an adalah pedoman bagi kita semua.   Kalau AlQur’an kita jadikan pedoman, apakah cukup hanya dibaca ?.


Dalam Surat Al Jaatsiyah ayat 20 Allah subhanahu wata’ala berfirman :

Al Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.

AlQur’an adalah pedoman hidup bagi manusia di dunia dan Akhirat.  Maka siapa yang ingin selamat dunia dan Akhirat, pedomannya dan obatnya adalah AlQur’an..  Ibarat orang yang bekerja harus mempunyai juk-lak (pedoman) yang diberikan oleh pihak atasan agar bekerja dengan benar.  

AlQur’an merupakan pedoman, petunjuk dan rahmat bagi orang yang betul-betul meyakini.  Masalahnya, banyak orang Islam Indonesia hanya meyakini di lisannya saja.  Buktinya, AlQur’an hanya di baca, tidak dipelajari. Tidak dipahami dan tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.   AlQur’an berbahasa Arab, maka harus dipelajari agar kita paham isinya.

AlQur’an berbahasa Arab, lihat Surat  Fushshilat ayat  44 :

Dan jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?" Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (Rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: "Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh".

AlQur’an diturunkan dengana bahasa Arab karena Rasul-Nya orang Arab.  Agar Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bisa menjelaskan dengan baik. Bahwa AlQur’an itu bagi orang yang beriman adalah petunjuk dan obat (penawar).  Jelas sekali.

Bagaimana dengan kita ?.  Kita banyak yang menganggap AlQur’an bukan obat, hanya sekedar bacaan. Bahkan banyak umat Islam di negeri kita jangankan mempelajari, membacanya saja tidak sama sekali. Padahal kelak akan ditanyakan di Akhirat.

Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dalam Hadits shahih diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzy dan Imam Hakim, dari sahabat yang bernama Anas bin Abdullah, beliau bersabda :
“AlQur’an kelak di Yaumil Qiyamah akan menjadi pembelamu, penolongmu memberi Syafaat kepadamu, ataukah AlQur’an yang akan menuntutmmu”.

Kita orang Islam, mengakui AlQur’an,  tetapi tidak pernah menjadikan AlQur’an sebagai pedoman. Jangankan dijadikan pedoman, membacanya saja tidak. Mengerti juga tidak.  Bagaimana mungkin AlQur’an akan menjadi pembela kita kelak di Hari Kiamat ?
Yang ada adalah AlQur’an akan menuntut kita, manakah amalmu, apakah sesuai dengan ilmu, sesuaikah dengan AlQur’an. 

Seperti disebutkan dalam ayat tersebut di atas bahwa bagi orang kafir yang memang telah diberi sumbatan  pada pendengaran mereka atas AlQur’an.  Artinya mereka tidak mau mendengar AlQur’an.   Maka kalau ada orang Islam tidak mau mendengar AlQur’an, lalu apa bedanya  dengan orang kafir.  Dan bila orang tidak mau mendengarkan AlQur’an, maka dijadikan di telinganya sumbatan dan AlQur’an itu bagi mereka adalah suatu kegelapan. Segalanya yang dari AlQur’an ditolak, padahal ia mengaku Islam. Oleh Allah digambarkan : Mereka itu seperti dipanggil dari tempat yang sangat jauh.

Maka marilah AlQur’an kita jadikan sebagai peringatan dari Allah subhanahu wata’ala.  Bahwa AlQur’an adalah obat.  Maka  harus dipelajari, bila sudah paham lalu diamalkan.
Misalnya seseorang sakit keras.  Kata dokter obat-obatan yang ada sudah tidak mempan. Harus diobati dengan obat paten, harus didatangkan dari Jerman.   Maka didatangkanlah obat itu dari Jerman.  Meskipun harganya amahal, tetapi harus dibeli.  Ketika diberikan obat oleh dokter disarankan agar dibaca dan dipelajari juklaknya, pelajari aturannya, jangan munim sembarangan.

Kalau hanya diberikan begitu saja, tidak ada petunjuknya, padahal petunjuknya dengan  bahasa Jerman, dokternya belum memberikan petunjuk, tentu tidak berani makan obat itu.  Yang harus dilakukan adalah : Dibaca, bukan hanya dibaca tetapi  dipelajari, diterjemahkan, dipahami lalu dilaksanakan sesuai dengan petunjuknya.   Kalau tidak tahu bahasa Jerman, tanyakan kepada ahlinya.   Kalau sudah tahu, amalkan.

Orang sudah membaca, mempelajari dan mengerti  AlQur’an, tetapi tidak diamalkan, maka penyakitnya (hatinya) tidak akan sembuh.   Itulah ibaratnya.. Maka satu-satunya pedoman tidak lain adalah AlQur’an.  Siapa yang ingin selamat dunia dan Akhirat, maka jadikan AlQur’an sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit hati kita.  Wallahu a’lam. 

Sekian bahasan mudah-mudahan bermanfaat.
SUBHANAKALLAHUMMA WABIHAMDIKA ASYHADU AN LAILAHA ILLA ANTA, ASTAGHFIRUKA  WA ATUBU ILAIK.
Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
                                                               _____________

No comments:

Post a Comment