Translate

Monday, March 10, 2014

Makna Hidup Manusia, oleh : Ustad Felix Siauw




                                    PENGAJIAN DHUHA MASJID BAITUSSALAM
                                                
                                                       Makna Hidup Manusia

                                                            Ustad Felix Siauw

                                        Jum’at,  24 Dzulhijjah 1433 H – 9 Nopember 2012


 Assalamu’alaikum wr.wb.,

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,
Bahasan kali ini  adalah tentang Makna Hidup Manusia berdasarkan AlQur’an Surat Al Baqarah ayat 30 – 38, yang pada hakekatnya ayat-ayat tersebut bercerita tentang perbandingan agama.  Karena kita tahu bahwa agama terbesar di dunia sekarang ini adalah Kristen dan Islam. Berikut kita lihat dari dua agama tersebut bagaimana mengatur tujuan hidup manusia. Dan apa konsekuensinya bagi hidup manusia pada zaman sekarang.

Banyak orang yang berfikir dan menelaah tentang Tujuan Hidup manusia  yang secara sadar atau tidak, secara langsung atau tidak,  selalu ia tanyakan dalam hidupnya sendiri.  Kadang ketika kita menjalani hidup, bila sudah jenuh pada suatu titik maka kita akan bertanya, sebenarnya hidup ini untuk apa ?  Ketika seseorang pada usia-usia tertentu, ia berpendapat bahwa hidup ini untuk mencari uang (harta), lalu ia mati-matian bekerja mencari uang.  Sampai pada suatu titik kemudian bertanya-tanya, benarkah hidupku ini untuk mencari uang (harta) ? Diperbudak oleh kerja ? Benarkah hidupku untuk itu ?

Barangkali untuk orang lain mengatakan bahwa hidup ini untuk happy, bahagia dan kesenangan, sampai pada suatu titik  dimana kesenangan sudah jenuh, maka orang berfikir lagi, benarkah hidup ini untuk kesenangan belaka ?   Lalu muncul pemikiran tentang Tujuan Hidup.  Bahkan tidak jarang orangtua sudah sejak dini menanamkan tentang tujuan hidup untuk anak-anaknya seperti apa. Dan parahnya,  banyak orangtua yang menanamkan kepada anak-anaknya bahwa tujuan hidup tidak lebih sekedar materi.  Biasanya pesan orangtua kepada anak-anaknya : Belajar baik-baik agar kelak menjadi orang.  Yang dimaksud menjadi orang adalah sukses, punya harta banyak, punya rumah mewah, punya mobil pribadi, bisa meng-Hajikan orangtuanya, dst.    

Itulah kata mereka tentang definisi “menjadi orang”, itulah tujuan hidup.  Sehingga tidak aneh, bila akhirnya anak-anak mereka mengejar materi saja.

Tujuan hidup menurut pandangan Nasrani dan pandangan Islam.

Menurut pandangan orang-orang Nasrani, dalam AlKitab yang terdiri dari Kitab Perjanjian Lama (Old Testament) dan Kitab Perjanjian Baru (New Testament), di mana dalam Kitab Perjanjian Lama (Kitab sebelum Nabi Isa Almasih lahir) dan Kitab Perjanjian Baru (Kitab setelah Nabi Isa Almasih lahir) dan Kitab Perjanjian Baru inilah yang disebut Bibel (Injil). Sedangkan Kitab Perjanjian Lama berisi tentang Kitab-Kitab terdahulu (Taurat dan Zabur).

Kitab Perjanjian Lama punya Surat 1 (pertama), namanya Surat Genesis (Surat Kejadian) yang menceritakan sebagaimana judulnya yaitu Penciptaan alam semesta dan bagaimana terjadinya manusia.  Dikisahkan di situ : Tuhan menciptakan bumi dan langit dalam tujuh masa.
Demikian kata mereka dalam Surat Genesis. Selanjutnya diceritakan tentang : Hari pertama menciptakan apa, hari kedua menciptakan apa, dan selanjutnya hari ketiga, keempat, kelima, ke enam, sampai hari ketujuh Tuhan bersitirahat (And God have rest). Itu menurut mereka. 

Dalam terjemahan yang lain diceritakan :  Setelah menciptakan bumi dan langit dalam enam masa,  Tuhan lalu tidur pada Hari Ketujuh. Karena itulah muncul pemahaman  dalam agama mereka  “Hari Ketujuh”. Kalau Tuhan saja tidur (beristirahat), berarti manusia tidak boleh bekerja pada hari tersebut. Maka orang-orang Nasrani (Awal) menjadikan hari ibadah setiap pekan pada hari ketujuh, namanya Hari Sabath (artinya : Hari ke tujuh). Maka orang-orang Yahudi dan Nasrani zaman dulu melakukan peribadatan pada hari Sabath (Hari ketujuh), karena hari itu Tuhan sedang istirahat (tidur). Maka paham mereka, manusia tidak boleh bekerja pada hari tersebut, kecuali beribadah saja. 

Selanjutnya diceritakan dalam Kitab tersebut: Setelah Tuhan menciptakan langit dan bumi, kemudian Tuhan menciptakan dan menumbuhkan berbagai-macam pohon.   Termasuk di dalamnya pohon yang buahnya bisa dimakan dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. (Kitab Genesis 2 : 9)

Dalam Kitab tersebut diceritakan  bahwa  setelah Tuhan menciptakan segala macam surga, bumi, langit dst,  maka Tuhan menciptakan sebuah taman, namanya Taman Eden (Surga).   Di taman itu tumbuh dua batang pohon yang sangat menarik, sangat sepesial, yaitu yang bernama Pohon Pengetahuan dan Pohon Kehidupan.  

Disebutkan dalam Kitab :  Kemudian Tuhan Allah berpesan, semua pohon dalam taman ini boleh engkau makan dengan bebas. Tetapi Pohon Pengetahuan (tentang yang baik dan yang jahat) jangan engkau makan buahnya, karena bila engkau makan, engkau pasti mati.

Ternyata itulah larangannya, yaitu boleh tinggal di Surga Eden, tetapi tidak boleh memakan satu buah, karena akan mati. Itulah terminologi orang Kristen.
Ternyata setan membujuk laki-laki dan perempuan.  Menurut cerita dalam AlKitab tersebut, setelah dilarang seperti itu,  Tuhan lalu meninggalkan manusia di Taman Eden.

Setalah itu datanglah setan yang menjelma dalam bentuk seekor ular dan ular itu berkata kepada manusia : “Sekali-kali kamu tidak akan mati  tetapi Allah mengetahui bahwa pada waktu kamu memakannya, justru matamu akan terbuka.  Engkau akan bisa menjadi seperti Allah, tahu yang baik dan yang jahat” (Genesis 3 : 6).

Maksudnya :  Bahwa Tuhanmu menyuruh kamu tidak boleh memakan buah itu, tetapi Tuhanmu bohong,  kamu tidak makan mati kalau kamu memakan buah itu.  Justru kalau kamu memakan buah itu yaitu buah pengetahuan, kamu akan punya banyak pengetahuan, sama dengan Tuhan.  Buah itu tidak boleh dimakan oleh kamu, karena Tuhan takut tersaingi, yaitu bukan saja Tuhan yang punya pengetahuan tetapi kamu juga punya pengetahuan.

Akhirnya perempuan itu mengambil buah itu.  Maka perempuan itu melihat buah pohon itu baik untuk dimakan. dan sedap pula kelihatannya.  Lagipula pohon itu menarik hati karena memberikan ilmu (pengetahuan). Lalu ia mengambil buahnya dan dimakannya.  Setelah dimakan maka ia juga memberikan kepada suaminya dan suaminya-pun memakannya.  Gara-gara itulah maka manusia melanggar peraturan Tuhan (Genesis 3 : 6). 

Itulah cerita dalam terminologi Kristen.  Karena itu pula-lah orang Kristen membenci perempuan pada awalnya. Karena itu mereka menjuluki perempuan adalah perangkap setan.  Mereka (orang Kristen) mengatakan bahwa setan tidak berani menggoda laki-laki, karena laki-laki anti godaan.  Yang digoda adaalh perempuan.  Maka dahulu salah seorang Uskup di Roma (Itali) sempat mengatakan  bahwa perempuan adalah perangkap setan.  Karena setan tidak bisa menggoda laki-laki, maka setan menggoda perempuan.   Karena perempuanlah maka kita manusia lalu diturunkan di dunia. Seandainya perempuan tidak makan buah itu, kita semua masih ada di Surga.  Demikian kata mereka. Maka perempuan lalu disalah-salahkan, karena perempuan akalnya lemah.

Cerita mereka selanjutnya, setelah memakan buah itu mereka sadar bahwa mereka menjadi telanjang. Awalnya tidak punya pengetahuan lalu menjadi punya pengetahuan.  Kemudian mereka merasa malu karena sudah punya pengetahuan maka lalu diambillah daun-daunan dari Surga untuk menutupi auratnya, dan mereka bersembunyi di balik semak-belukar.

Diceritakan berikutnya :  “Petang  itu Tuhan Allah berjalan di dalam taman. Lalu mereka berdua bersembunyi di antara pohon-pohon supaya tidak terlihat oleh Tuhan. Tetapi Tuhan Allah berseru kepada laki-laki itu : “Dimanakah engkau ?”.

Memang aneh, Tuhan tidak tahu manusia berada, hanya karena manusia itu bersembunyi di antara pohon-pohon.  Tetapi itulah AlKitab mereka. Itu membuktikan bahwa AlKitab itu buatan manusia.  Berbeda dengan AlQur’an  yang tidak sedikit-pun cela dalam penceritaan-nya. 

Ternyata setelah mereka diketahui dan diketahui pula telah  memakan buah terlarang, cerita berikutnya : “Kemudian Tuhan menyeru kepada orang laki-laki itu : Apakah karena itu lalu kamu memakan buah ? Aku mendengar kamu di taman, maka aku menjadi takut.  Tuhan berkata : Siapa yang mengatakan kepadamu bahwa kamu telanjang ? Apakah kamu telah memakan buah yang telah Aku larang ?
Maka laki-laki itu menjawab : Perempuan yang engkau buat untuk menemani aku  telah memberi buah itu kepada aku lalu aku makan. Tuhan bertanya kepada perempuan : Benarkah kamu yang memberi buah itu ?  Perempuan itu berkata : Tidak,  aku ditipu oleh ular sehingga aku memakan buah itu. (Genesis 3 : 8-9).

Itulah sifat manusia yang diceritakan dalam AlKitab, bahwa manusia suka berkilah, tidak mengaku apa yang diperbuatnya dan menyalahkan orang lain.

Setelah terbukti bahwa semua itu terjadi dan larangan sudah dibuat, maka semuanya terkena kutuk. Ular juga dikutuk.  Tuhan Allah berkata kepada ular : “Engkau akan dihukum karena perbuatanmu. Dari seluruh binatang hanya kamu yang harus menanggung kutukan ini. Yaitu kamu akan berjalan menjalar (dengan perut), makan debu seumur hidup dan perempuan akan saling membenci, keturunanmu bermusuhan.  Keturunan-nya akan meremukkan kepalamu, engkau menggigit tumit mereka”. 

Itulah kutukan bagi ular. Kutukan bagi orang perempuan lebih spesifik lagi : Tuhan Allah menyeru kepada perempuan : “Aku akan menambah kesakitanmu selagi kamu hamil dan pada waktu kamu melahirkan.  Tetapi kamu akan tetap birahi walaupun begitu, kamu akan tunduk kepadanya”.

Itulah hukuman bagi orang perempuan menurut versi Kristen (AlKitab), yaitu hamil dan melahirkan akan terasa sakit,  tetapi ia akan tetap senang kepada suaminya. Jadi menurut Krsiten hamil dan melahirkan adalah hukuman.

Berbeda dengan Islam, dimana bila orang perempuan merasa sakit sedikit ketika hendak melahirkan para malaikat membantu dengan Istighfar.  Ketika  tepat hendak melahirkan malaikat ber-Istighfar lagi. Ketika bayi sudah lahir dengan selamat dan bayi itu fitrah, yang melahirkan ikut fitrah, Bila bayi itu meninggal ketika dilahirkan, maka ia menunggu  ibunya di surga apabila ibu-bapaknya ikhlas. Bila ibunya meninggal karena melahirkan maka ia terhitung mati sahid.
Itulah suatu contoh bahwa Islam berbeda dengan agama lain. Bahwa Islam memuliakan wanita.

Kembali kepada cerita AlKitab:  Bahwa Tuhan tidak saja memberikan hukuman bagi perempuan tetapi juga kepada laki-laki.  Yaitu laki-laki kemudian diperintahkan untuk bekerja keras mencari nafkah.  Setiap kerja keras maka itu adalah sebuah hukuman.  Tuhan berkata : Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu, yaitu memakan buah yang Aku larang, karena perbuatanmu maka terkutuklah tanah, engkau harus bekerja keras seumur hidup, karena tanah ini menghasilkan makanan, semak dan duri akan dihasilkan, tumbuhan liar akan menjadi makanan. Kamu akan bekerja keras, bersusah-payah dan mengeluarkan keringat sampai menghasilkan sesuatu. Sebab kamu berasal dari tanah, dari tanah kamu dibentuk dan kepada tanah kamu akan kembali.   

Itulah yang menjadi sebuah filosofi mereka, bahwa karena manusia berbuat dosa maka ia turun ke dunia, dikarenakan ia telah memakan buah yang telah Tuhan larang.
 
Setelah manusia dan setan turun ke dunia, Tuhan berkata kepada malaikat, inilah perkataan Tuhan :

“Berfirmanlah Tuhan Allah, sesungguhnya manusia itu telah menjadi salah satu dari kita, mereka tahu tentang yang baik dan tentang yang jahat, karena itu jangan sampai dia mengulurkan tangannya lagi dan mengambil pula buah dari pohon kehidupan.  Sebab kalau dia sampai makan dari pohon kehidupan  maka dia akan hidup selamanya.

Oleh karena itulah Tuhan Allah mengusir mereka dari Taman Eden, supaya mengusahakan dia menghalau dan di sebelah timur Taman Eden,  untuk menjaga pohon kehidupan ini ditempatkanlah beberapa Kerub”.

Keterangan: 
Kerub  dalam bahasa internasional adalah Cherrobin (lihat di Google)  yaitu binatang yang sangat mengerikan.  Kepalanya berbentuk kepala singa, punya sayap dan selalu memegang pedang yang menyala-nyala.  Pedang itu diayun-ayunkan, menyambar siapa saja yang berani mendekati pohon kehidupan.  

Dari  ayat AlKitab tersebut banyak muncul cerita tentang Tree of Life (Pohon Kehidupan). Dalam film-film cerita (Game) banyak cerita tentang Tree of Life, yaitu pohon yang memberikan kehidupan abadi. Karena dalam paham kaum kapitalis mereka takut mati. Maka mereka mencari cara agar bisa hidup abadi.
(Sementara orang Muslim justru tidak mau hidup itu abadi, karena mereka sangat ingin bertemu dengan Allah subhanahu wata’ala di Akhirat. Untuk itu maka orang harus mati).

Berdasarkan AlKitab, situs Taman Eden berada di antara sungai Efrat dan sungai Tigris (daerah Irak, Timur-Tengah).  Maka orang-orang Kristen sampai sekarang masih mencari, dengan harapan ada pintu yang terlewat untuk menuju Taman Eden yang di situ masih ada pohon kehidupan (Tree of Life). Itulah spekulasi mereka.

Kesimpulannya : 

1.      Mereka berpaham bahwa  hidup mereka adalah untuk menjalani sebuah hukuman karena mereka telah berbuat dosa dan Tuhan belum memaafkan mereka, maka di dunia pekerjaan mereka adalah menjalani hukuman. Hamil dan melahirkan adalah hukuman. Bahkan turunnya manusia ke dunia ibarat mereka sedang dipenjara di dunia, karena menjalani sebuah hukuman sampai pada waktu tertentu dan tidak ada Job Discribsion.

2.      Tuhan mereka bohong.  Karena Tuhan berkata : “Kalau kamu makan buah ini kamu akan mati".  Ternyata sesudah makan buah terlarang itu mereka (manusia) itu tidak mati. Berarti Tuhan tidak benar. Yang benar adalah setan, yang mengatakan: “Tuhanmu bohong, kamu tidak akan mati setelah makan buah ini.  Justru kalau kamu makan, maka kamu akan punya pengetahuan.  Tuhan itu bohong, dia takut tersaingi, maka kamu dilarang makan buah itu”.


3.      Tuhan belum memaafkan manusia , karena manusia diturunkan ke bumi dalam keadaan Tuhan marah.  Maka muncullah konsep Dosa-asal (dosa waris).  Artinya setiap manusia punya dosa turunan yaitu dosanya Adam dan Hawa. Untuk menebus dosa itu maka harus lewat Jesus yang disalib di kayu salib.  Itulah dongeng mereka.    


Itulah pemahaman berdasarkan orang-orang Krsiten, yang kitabnya tidak benar. Maka AlQur’an menyebutkan : Kalau Kitab itu buatan manusia, maka kamu akan menemukan pertentangan yang banyak.
Ternyata benar, baru membaca Kitab Genesis sebagian saja, baru pada Surat Kejadian-Awal saja sudah terlihat Tuhannya bohong, yang tidak mungkin terjadi di sebuah dunia nyata.  Maka itu bukan kitab yang benar.

Bagaimana dengan AlQur’an ?.  Dalam AlQur’an diceritakan hal yang sama yaitu pada (awal AlQur’an) Surat Al Baqarah ayat 30 :   

                                 
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Keterangan.
Yang dimaksud Khalifah dalam ayat tersebut adalah wakil, pengelola (manager), di atas muka bumi. Perkataan Malaikat dalam ayat tersebut bukanlah protes, melainkan sekedar konfirmasi dari perintah Allah.  Dan Allah berfirman dalam ayat tersebut :  Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” – Dan itu dibuktikan kepada para Malaikat seperti dalam ayat berikutnya (ayat 31).
                                                        
Ayat 31 :                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  
Dan Dia(Allah) mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"

Maksudnya, ketika Allah subhanahu wata’ala telah selesai mengajarkan kepada Adam tentang nama-nama semua benda yang ada di bumi, dan Adam-pun menjadi tahu semua nama benda itu, lalu Allah berfirman kepada para malaikat untuk menyebutkan nama-nama benda itu, ternyata tidak ada malaikat yang bisa menyebutkannya. Para Malaikat itu lalu menjawab sebagaimana ayat 32 berikut.

Ayat 32 :

Mereka menjawab: "Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana."

Maka setelah Malaikat meng-konfirmasi bahwa mereka tidak bisa melakukan hal itu, tidak tahu nama-nama benda yang telah di ajarkan kepada Adam, maka Allah subhanahu wata’ala memberikan  lagi kepada Adam seperti dalam ayat 33 berikut :

Ayat 33 :

Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"

Dari ayat tersebut, kita mendapatkan dalil bahwa Allah subhanahu wata’ala memberikan kepada manusia yang tidak diberikan kepada malaikat. Yang membuat kita (manusia) lebih mulia daripada para malaikat. Yang membuat kita diamanatkan yang tidak diamanatkan kepada para malaikat, itulah akal.  Kemampuan untuk menyebutkan nama-nama benda, kemampuan untuk mempelajari sesuatu. Karena diberi akal itulah, maka kita dibebankan (diberikan) AlQur’an. Maka manusia akan menjadi bodoh kalau tidak mau memakai akalnya.  Tetapi bila manusia mau memakai akalnya, maka ia akan lebih mulia daripada malaikat dan ciptaan-ciptaan yang lain.

 
Ayat 34 :

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.

Dalam ayat tersebut kata “Kami” (Allah) adalah gaya-bahasa Arab yang menunjukkan sebuah majas (ketinggian). Yaitu penggunaan kata “Kami” setelah Allah berhasil membuktikan kepada para malaikat bahwa Dia (Allah) adalah benar, lalu berfirman seperti dalam ayat tersebut di atas.

Dalam ayat tersebut : “Maka sujudlah mereka semua kecuali Iblis. Ia enggan dan takabur dan ia termasuk golongan orang-orang kafir”. 
Itulah sebagai catatan tentang dosa-dosa awal yang tersebut dalam AlQur’an, yaitu : Rasa enggan (malas), takabur (sombong) merasa dirinya lebih baik daripada yang lain,   menolak kebenaran dan meremehkan manusia,  dst.  

Dan itu dilakukan oleh Iblis, bukan malaikat.  Karena dalam ayat lain AlQur’an menerangkan bahwa malaikat dibuat dari cahaya dan Iblis dibuat dari api.  Dan Iblis  berasal dari golongan Jin yang punya akal.  Maka ia bisa membantah. Sedangkan malaikat tidak punya akal, maka mereka tidak bisa dan tidak mungkin membantah, karena tidak punya akal.  Sedangkan Iblis punya akal,  maka Iblis membantah. Setelah Iblis membantah maka ia termasuk golongan Jin yang kafir.

Ayat 35 :

Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.

Dalam ayat tersebut Allah subhanahu wata’ala tidak menyebutkan nama buah itu. Adapun yang menyebutkan buah Khuldi adalah Syaithan (Setan) yang memberi nama. Sedangkan Allah tidak menerangkan itu pohon apa.

Mengapa Syaithan memberikan nama demikian ? Karena tipu-daya syaithan adalah : Ini pohon keabadian, kalau anda memakan buahnya, maka anda akan bisa hidup selamanya. Lalu manusia tertarik.  Sedangkan Allah subhanahu wata’ala tidak pernah menyebutkan itu  abadi atau tidak.  Karena itu hanyalah tipu-daya syaithan.  Maknanya tidak ada kehidupan abadi di dunia ini. Dan Syaithan selalu menjanjikan kepada manusia sesuatu yang abadi di dunia.

Kemudian, apakah buah itu dimakan oleh manusia (Adam dan Hawa) ?  Ternyata dimakan, tetapi Allah subhanahu wata’ala menyebutkannya dengan  bagus sekali dalam ayat beriktut (ayat 36) dibandingkan bahasa AlKitab yang tidak bagus dan tidak hemat isinya.

Ayat 36 :

Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu*] dan dikeluarkan dari keadaan semula**] dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan."

*] Adam dan hawa dengan tipu daya syaitan memakan buah pohon yang dilarang itu, yang mengakibatkan keduanya keluar dari surga, dan Allah menyuruh mereka turun ke dunia. yang dimaksud dengan syaitan di sini ialah iblis yang disebut dalam surat Al Baqarah ayat 34 di atas.

**] Maksud Keadaan semula ialah kenikmatan, kemewahan dan kemuliaan hidup dalam surga.

Keterangan ayat.
Kata “digelincirkan” menurut para ahli tafsir, artinya tidak sampai terjerembab, hanya terpelest, tidak sampai jatuh terjerembab.  Jadi tidak terlalu serius dan bukanlah kejadian yang sangat istimewa, seperti yang diceritakan oleh AlKitab, dimana Tuhan sampai marah besar (mengamuk) dan semua terkena hukuman. Tidak demikian.  Dalam AlQur’an, kejadian tersebut bukanlah sesuatu yang sangat serius, bukan sesuatu yang sangat besar. 

Dalam ayat tersebut Allah subhanahu wata’ala berfirman : “Turunlah kamu dari surga, sebagian dari kamu menjadi musuh bagian yang lain”.

Apakah itu maksudnya diusir ? Tidak. Kita manusia tidak pernah diusir oleh Allah sebagaimana pendapat orang-orang Krsiten.  Maka jangan pernah beranggapan bahwa kita manusia di dunia ini karena diusir oleh Allah.  Orang Kristen beranggapan (merasa) diusir, karena memang demikian kata-kata dalam AlKitab.  

Sedangkan dalam AlQur’an, kita tidak pernah diusir. Karena seperti kita baca sebelumnya, yaitu pada ayat 30 tersebut di atas : “Sesungguhnya Aku (Allah) hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.  
Maknanya, bahwa sejak awal memang Allah hendak menjadikan seorang Khalifah (Manager) di muka bumi.   Bahwa maksud kita (manusia) diciptakan Allah subhanahu wata’ala memang tidak pernah untuk mendiami Surga, tetapi untuk pergi ke bumi.  Jadi kita tidak pernah diusir sebagaimana anggapan orang-orang Kristen.

Adapun kejadian itu adalah sebagai pembelajaran bagi manusia (suatu proses) dan selanjutnya disuruh turun ke bumi.

Ayat 37 :

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat*] dari Tuhannya, Maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

*] Tentang beberapa kalimat (ajaran-ajaran) dari Tuhan yang diterima oleh Adam sebahagian ahli tafsir mengartikannya dengan kata-kata untuk bertaubat.

Dan Adam menerima ampunan dan maaf dari Allah subhanahu wata’ala karena taubatnya.
Maknanya: Allah telah menerima taubat manusia.  Kalimat Taubat Nabi Adam ‘alaihissalam adalah : Robbana dzolamna anfusana faillam taghfirlana watarhamna lana kunanna minal khosyirin (Ya Rabb kami, kami telah men-dzolimi diri kami sendiri.  Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami,  niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi).

Dan Allah memperkuat pernyataan-Nya di ayat yang lain : Innahu huwa tawwaburrahim (Sesungguhnya  Allah Maha Menerima Taubat, dan Dia Maha Penyayang terhadap umat-Nya).
Rasulullah  shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sebuah Hadits : Sekalipun anda datang dengan membawa dosa-dosa sebesar gunung, maka Allah membawa ampunan sepenuh bumi.

Maka bagi kita tidak ada alasan untuk tidak bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala.
Sedangkan Adam bertaubat maka Allah maafkan dan diberikan ampunan. Maka setiap manusia yang bertaubat,  selama taubatnya itu dengan tulus dan bersungguh-sungguh pasti Allah berikan maaf dan ampunan.

Ayat 38 :

Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati".

Dari ayat tersebut, kita ambil pelajaran bahwa siapa yang mengikuti petunjuk dari Allah (yaitu AlQur’an dan Hadits), pasti tidak ada kekhawatiran dan takut (sedih) dalam menjalani hidup di dunia ini.

Kira-kira bila dibayangkan, Adam berkata kepada Allah : “Ya Allah kami disuruh ke dunia, sedangkan kami tidak pernah di dunia, lalu bagaimana mungkin kami bisa menjadi seorang Khalifah di dunia ?”   Maka Allah subhanahu wata’ala menjawab : “Tenanglah kalian, turunlah ke bumi, dan Kami akan turunkan Petunjuk untuk bagaimana menjadi seorang Khalifah di bumi. Bila kamu ambil Petunjuk itu, maka Aku (Allah) jamin tidak akan ada kekhawatiran dan kamu tidak akan bersedih karena Petunjuk-Ku pasti benar”.

Maka setelah itu Adam turun ke bumi dengan mengambil Petunjuk Allah subahanahu wata’ala.
Dan yang sebenarnya kita manusia tidak pernah diusir sebagaimana anggapan orang Kristen.

Yang terjadi adalah kesalahan manusia ketika ia mendengarkan perkataan Syaithan dan itu merupakan pelajaram terakhir dari Allah subhanahu wata’ala sebelum manusia diturunkan ke dunia. Maka pesan Allah dalam AlQur’an : Innahu lakum ‘aduwwummubin (Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagimu).
Maka hati-hatilah wahai manusia, jangan sampai kalian terpedaya sebagaimana Adam terpedaya oleh Syaithan. Tetapi bila anda sampai terpedaya, dan pasti akan terpedaya, maka Allah subhanahu wata’ala sediakan ampunan seluas bumi.

Maknanya, bahwa manusia dikaruniai akal, dengan demikian manusia lebih mulia daripada malaikat.  Dengan akal itu manusia bisa belajar, dan bisa ber-taubat kepada Allah subhanahu wata’ala.    

Setiap Bani Adam berdosa  dan setiap pendosa yang terbaik adalah yang bertaubat kepada Allah dengan segera, yang menyadari kesalahananya, dan ber-Istighhfar  kepada Allah dan berhenti dari perbuatan dosanya itu dan berbuat kebaikan sebanyak-banyakanya.  

Maka manusia turun ke bumi dan kita (manusia) menjadi agen sebuah missi . Missi kita adalah mengatur dunia dengan Islam, dengan AlQur’an, bersenjatakan akal yang telah dikaruniakan Allah subhanahu wata’ala, dan hati untuk bersenang-senang di dunia.  Dan dengan missi untuk memakmurkan bumi, ada Job Discribsion-nya yaitu AlQur’an dan As Sunnah. Agar kita bisa melaksanakan dengan baik dan waktu kita terbatas.

Bedanya dengan anggapan Kristen, mereka menganggap dirinya sebagai residifis (terhukum)  sedang menjalani hukuman di bumi, sementara kita Umat Islam merasa sebagai Khalifah fil Ardh. (Pengelola bumi), dimana ada kesenangan hidup dengan petunjuk Allah yaitu AlQur’an. Sedangkan bagi orang Kristen, hidup ini seperti sedang menjalani hukuman, sesuai dengan konsep agama mereka. Maka mereka senang dengan menghukum dirinya sendiri.

Contoh:  Orang yang benar-benar beragama Kristen asli, yang benar-benar mendalami agama, maka mereka harus menyiksa diri.  Minimal bagi seorang pastur tidak boleh menikah. Itu berarti menyiksa diri.  Sementara dalam Islam menikah itu enak,  beristeri adalah kesenangan sekaligus mendapat pahala. Dunia ini sesungguhnya hanyalah perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan adalah isteri yang sholihah (suami yang sholih). Itulah kesenangan hidup dan kita berhak untuk menikmatinya. Karena dunia memang diciptakan untuk itu, yaitu ada kesenangan, ada peringatan  dan ada petunjuk dari Allah subhanahau wata’ala. Kalau mereka yang orang Kristen merasa susah dan kesakitan tetapi kita umat Islam tidak khawatir dan tidak sedih.

Inti dari bahasan ini adalah : Allah subhanahu wata’ala menurunkan manusia ke dunia, membekali mereka dengan akal, yang itu berbeda dengan para Malaikat. Oleh karena itulah mereka diberikan sebuah amanah yang ditolak langit, bumi, gunung dan Malaikat.
Dan amanah dimaksud adalah AlQur’anul Karim,  yang kemudian bisa memakmurkan bumi dan segala isinya. Maka bila manusia menggunakan akalnya maka ia akan mendapatkan AlQur’an dan As Sunnah sebagai petunjuk yang membuat ia menjadi muslim, beriman, kafir atau musyrik.

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surat Thaha 123 – 127 :

123. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.

124. Dan arangsiapa berpaling dari peringatan-Ku (AlQur’an) maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit,dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".

125. Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?"

126. Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan".

127. Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.

Kesimpulan:  Setiap ada masalah, maka  itu akibat penyelewengan Syari’at.  Maka agar tidak ada masalah, kita hendaknya memakai Hukum Allah subhanahu wata’ala (AlQur’an).

Sekian bahasan, mudah-mudahan bermanfaat.
SUBHANAKALLAHUMMA WABIHAMDIKA ASYHADU AN LAILAHA ILLA ANTA, ASTAGHFIRUKA WA ATUBU ILAIK.

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

                                                            ________________



























No comments:

Post a Comment