Translate

Friday, July 25, 2014

Buah Manis Dari Bertaubat, oleh : Ustadz Ahmad Susilo, Lc.



PENGAJIAN DHUHA MASJID BAITUSSALAM
                          
  Buah Manis Dari Bertaubat
  Ustadz Ahmad Susilo,  Lc.
  
 Jum’at,  20 Romadhon 1435 – 18 Juli 2014


 Assalamu’alaikum wr.wb.,

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,
Dalam sebuah Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzy dan Ibnu Majah, dari sahabat Ali bin Abi Thalib rodhiyallahu ‘anhu, Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya setiap manusia banyak berbuat kesalahan, manusia banyak berbuat dosa, tetapi sebaik-baik manusia yang banyak  berbuat kesalahan dan banyak berbuat dosa adalah yang paling banyak bertaubat”.   

Maknanya, bahwa Allah subhanahu wata’ala membuka kesempatan bagi kita, manusia yang banyak salah dan dosa,  banyak  kekufuran dan ke-dzoliman, dibuka pintu rahmat oleh Allah subhanahu wata’ala berupa ampunan bagi siapa  yang mau bertaubat  kepada-Nya. Maka Allah subhanahu wata’ala memiliki sifat Rahmah (kasih-sayang) dan kasih-sayang yang tidak dimiliki oleh siapapun selain Allah.  Dan rahmat Allah itu berupa Maghfirah (Ampunan).

Maka Allah memiliki nama At Tawwab (Maha Penerima Taubat), Al ‘Afwu (Maha Pemaaf), Al Ghofur (Maha Pengampun), semua itu dimiliki oleh Allah subhanahu wata’ala, tidak dimiliki oleh manusia. Sedangkan manusia kadang memaafkan hanya di lisannya saja tetapi dalam hatinya tidak. Atau mungkin lisan dan hatinya memaafkan tetapi tidak disertai dengan amal (perbuatan).
Bahkan di dunia ini, di sekitar kita ada orang yang berani mengatakan : “Sampai tujuh turunan tidak akan saya maafkan”.  Na’udzubillah min dzalik !
Berarti orang itu orang yang sombong di hadapan Allah subhanahu wata’ala.

Allah yang menciptakan dan menghidupkan kita, Allah yang memiiliki alam semesta, tetapi Allah tidak pernah mengatakan : “Aku tidak pernah maafkan”.  Tetapi Allah selalu berfirman : “Aku ampuni, Aku ampuni” hanya kita tidak pernah tahu, sudahkah Allah mengampuni atau tidak.  Kita harus berharap dan yakin kalau kita mau bertaubat pasti Allah akan mengampuni kita.

Dalam AlQur’an Surat Al An’am ayat 54 Allah subhanahu wata’ala berfirman :

سُوۡرَةُ الاٴنعَام

وَإِذَا جَآءَكَ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِـَٔايَـٰتِنَا فَقُلۡ سَلَـٰمٌ عَلَيۡكُمۡ‌ۖ كَتَبَ رَبُّكُمۡ عَلَىٰ نَفۡسِهِ ٱلرَّحۡمَةَ‌ۖ أَنَّهُ ۥ مَنۡ عَمِلَ مِنكُمۡ سُوٓءَۢا بِجَهَـٰلَةٍ۬ ثُمَّ تَابَ مِنۢ بَعۡدِهِۦ وَأَصۡلَحَ فَأَنَّهُ ۥ غَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ۬ (٥٤)


Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu(Muhammad), maka katakanlah: "Salaamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Maksudnya, kepada orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Allah subhanahu wata’ala, kita diperintahkan untuk mengucapkan “Assalamu’alaikum”.
Bukan ucapan : Mau kemana ?. Atau:  Lagi ngapain?, Apa kabar?.dst.

Maknanya, Allah subhanahu wata’ala memerintahkan kepada kita agar bila kita berjumpa sesama orang beriman, ucapkan “Assalamu’alaikum”, yaitu ucapan salam dan do’a.  Saling mengucapkan salam.

Dalam ayat tersebut Allah subhanahu wata’ala telah menetapkan pada Diri-Nya sifat rahmah (kasih-sayang), yaitu yang paling utama dan itu dibutuhkan oleh setiap manusia, ialah: Ampunan.  Jika Allah tidak punya sifat kasih-sayang tersebut, betapa banyak manusia berbuat dosa lalu tidak diampuni,  pasti semua manusia masuk neraka.  Maka marilah kita raih.  Karena Allah memiliki sifat rahmah (kasih-sayang) berupa ampunan. 

Berdasarkan ayat tersebut, sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.  Maka orang-orang yang mau bertaubat dengan bertaubat yang sebenar-benar taubat, Allah jamin memberikan ampunan, Allah jamin memberikan kebaikan-kebaikan.

Maka ada tiga syarat bertaubat, agar kita mendapatkan buah manis dari bertaubat, yaitu  Allah subhanahu wata’ala firmankan dalam Surat Ali Imran ayat 135 :

سُوۡرَةُ آل عِمرَان

وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَـٰحِشَةً أَوۡ ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَہُمۡ ذَكَرُواْ ٱللَّهَ فَٱسۡتَغۡفَرُواْ لِذُنُوبِهِمۡ وَمَن يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمۡ يُصِرُّواْ عَلَىٰ مَا فَعَلُواْ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ (١٣٥)


Dan (juga) orang-orang yang(bertakwa) apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

Kenapa harus kepada Allah ? Karena tidak ada yang bisa memberi ampunan kecuali hanya Allah subhanahu wata’ala. Bukan pendeta atau manusia yang bisa memberikan ampunan. 

Maka syaratnya adalah :

1.     Menyesali diri, sadar bahwa telah berbuat kesalahan/dosa, segera menyesal.
2.     Tidak menunda-nunda, tetapi segera memohon ampun kepada Allah subhanahu wata’ala.
3.     Tidak mengulangi kesalahan dan tidak mengulangi berbuat dosa dan memperbaiki diri.

Bila syarat tersebut terpenuhi, insya Allah taubat kita akan diampuni oleh Allah subhanahu wata’ala. Demikian Allah memberikan jaminan bahwa kita diampuni. Maka buah manis dari taubat yang diampuni oleh Allah subhanahu wata’ala adalah Surat Huud ayat 3 :
سُوۡرَةُ هُود

وَأَنِ ٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِ يُمَتِّعۡكُم مَّتَـٰعًا حَسَنًا إِلَىٰٓ أَجَلٍ۬ مُّسَمًّ۬ى وَيُؤۡتِ كُلَّ ذِى فَضۡلٍ۬ فَضۡلَهُ ۥ‌ۖ وَإِن تَوَلَّوۡاْ فَإِنِّىٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ۬ كَبِيرٍ (٣)


Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.

Maksudnya,  permohonan ampun kita disertai dengan tiga syarat tersebut di atas.  Bukan asal mengucap Astgahfirullah. Maka setiap orang yang takut akan siksa neraka, segera ia bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala.

Jangan sekali-kali anda punya anggapan bahwa tidak mungkin Allah akan mengampuni kita, karena dosa kita sudah terlalu banyak. Anggapan demikian adalah salah, karena Allah tidak pernah berfirman yang demikian itu.  Yang terpenting adalah jangan terlambat. Orang yang berdosa sebanyak apapaun, sebesar apapun selama belum terlambat minta ampun, pasti Allah akan ampuni.

Lihat Surat An Nisaa’ ayat 17 dan 18 :

سُوۡرَةُ النِّسَاء

إِنَّمَا ٱلتَّوۡبَةُ عَلَى ٱللَّهِ لِلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ ٱلسُّوٓءَ بِجَهَـٰلَةٍ۬ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ۬ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ يَتُوبُ ٱللَّهُ عَلَيۡہِمۡ‌ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَڪِيمً۬ا (١٧) وَلَيۡسَتِ ٱلتَّوۡبَةُ لِلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ حَتَّىٰٓ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ ٱلۡمَوۡتُ قَالَ إِنِّى تُبۡتُ ٱلۡـَٔـٰنَ وَلَا ٱلَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمۡ ڪُفَّارٌ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَعۡتَدۡنَا لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمً۬ا (١٨)



17. Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, Maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

18. Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang". dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.

Syarat bertaubat : Segera. Yaitu ketika sadar bahwa seseorang telah melakukan kesalahan/dosa, segera bertaubat kepada Allah, mohon ampun dengan sungguh-sungguh, jangan ditunda-tunda.

Siapa yang tidak diterima taubatnya ?. Yaitu orang yang dalam hidupnya berbuat dosa, sampai datang sakaratulmaut, barulah ia bertaubat. Taubat yang demikiian tidak akan diterima oleh  Allah subhanahu wata’ala.  Karena taubatnya terlambat. Ia bertaubat ketika nyawanya sudah sampai di kerongkongannya.

Dan Allah subhanahu wata’ala tidak akan menerima taubat dari orang yang mati dalam ke-kafiran. Dan Allah telah menyediakan bagi mereka yang mati dalam kekafiran, adzab yang sangat pedih, yaitu neraka. 

Demikian pula bagi orang yang berbuat syirik (menyembah selain Allah swt), taubatnya tidak akan diterima, kalau setelah bertaubat ia berbuat (berlaku, bersikap) syirik lagi.   Walaupun ia setiap saat bertubat kepada Allah, tetapi masih tetap dalam ke-syirikan, maka taubatnya tidak akan diterima. 

Lihat Surat An Nisaa’ ayat 48  Allah subhanahau wata’ala berfirman:  

  
سُوۡرَةُ النِّسَاء

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٲلِكَ لِمَن يَشَآءُ‌ۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفۡتَرَىٰٓ إِثۡمًا عَظِيمًا (٤٨)


Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia(Allah) mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.

Maksudnya, dosa syirik tidak akan diampuni oleh Allah subhanahu wata’ala.
Berdasarkan ayat tersebut, sungguh kita merasa takut apabila terlambat bertaubat.

Istighfar sehari 100 kali.
Maka hendaknya kita setiap saat bertaubat.  Karena Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam setiap hari bertaubat, mengucapkan Istighfar sebanyak 100 (seratus) kali.
Dalam Hadits riwayat Imam Muslim, dari sahabat bernama Abdullah bin Umar, Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian semua kepada Allah.  Sesungguhnya aku senantiasa Istighfar  (bertaubat kepada Allah) dalam satu hari seratus kali”. 

Bayangkan, Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam yang sedikit sekali kesalahan beliau, bahkan beliau ma’shum (bebas dari dosa) dan sudah dijamin oleh Allah subhanahu wata’ala bahwa beliau akan dimasukkan ke dalam Surga, tetapi beliau setiap hari senantiasa bertaubat (mengucapkan Astaghfirullah) sebanyak tidak kurang dari seratus kali.

Lihat Surat AlQiyamah dari ayat 24 – 35 Allah subhanahu wata’ala berfirman :
وۡرَةُ القِیَامَة

وَوُجُوهٌ۬ يَوۡمَٮِٕذِۭ بَاسِرَةٌ۬ (٢٤) تَظُنُّ أَن يُفۡعَلَ بِہَا فَاقِرَةٌ۬ (٢٥) كَلَّآ إِذَا بَلَغَتِ ٱلتَّرَاقِىَ (٢٦) وَقِيلَ مَنۡۜ رَاقٍ۬ (٢٧) وَظَنَّ أَنَّهُ ٱلۡفِرَاقُ (٢٨) وَٱلۡتَفَّتِ ٱلسَّاقُ بِٱلسَّاقِ (٢٩) إِلَىٰ رَبِّكَ يَوۡمَٮِٕذٍ ٱلۡمَسَاقُ (٣٠) فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلَّىٰ (٣١) وَلَـٰكِن كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ (٣٢) ثُمَّ ذَهَبَ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ يَتَمَطَّىٰٓ (٣٣) أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰ (٣٤) ثُمَّ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰٓ (٣٥)


24. Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram,
25.Mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat.
26. Sekali-kali jangan. apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan,
27. Dan dikatakan (kepadanya): "Siapakah yang dapat menyembuhkan?",
28. Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia),
29. Dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan),
30. Kepada Tuhanmu-lah pada hari itu kamu dihalau.
31. Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al Quran) dan tidak mau mengerjakan shalat,
32. Tetapi ia mendustakan (Rasul) dam berpaling (dari kebenaran),
33. Kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong).
34. Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu,
35.Kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu.

Dalam ayat 34 dan 35 Allah subhanahu wata’ala empat kali mengatakan  “Celaka kepada orang yang mati terlambat bertaubat. Ia tidak bertaubat selama hidupnya, baru mengatakan “Taubat” setelah nyawanya sudah sampai di kerongkongan.   Maka jangan sampai kita menunda-nunda untuk bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala.


Apalagi bulan Romadhon sudah masuk malam ke 21, terutama pada malam-malam ganjil.  Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim,  dari’Aisyah rodhiyallahu ‘anha berkata : “Bahwasanya Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam apabila masuk pada sepuluh terakhir bulan Romadhon,  maka beliau bersungguh-sungguh dan bersemangat untuk beribadah, beliau kencangkan ikat pinggangnya, beliau hidupkan malam-malamnya, beliau bangunkan keluarganya, untuk munajat dan memohon kepada Allah subhanahu wata’ala”.

Sementara  di negeri kita di akhir Romadhon dimana malam-malamnya penuh dengan barokah, dan dijanjikan Lailatul Qadar, manusia sudah mulai lelah dan jemu untuk ibadah, ia bangun malam hanya untuk makan sahur lalu tidur lagi. Itulah manusia yang tidak ber-ilmu. Lalu bagaimana iman dan takwanya akan bernilai di sisi Allah ?  Bagaimana ia akan bertaubat?.

Semua itu karena mereka tidak tahu ilmunya.  Untuk hidup di dunia mereka ingin meraih ilmu setinggi-tingginya tetapi untuk Akhirat ilmunya nol sama sekali.
Maka marilah dalam sepuluh hari terakhir Romadhon ini kita hidupkan malam-malamnya.  Karena sesungguhnya kemuliaan Romadhon adalah terdapat pada malam-malam akhir Romadhon (sepuluh hari terakhir Romadhon).

Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu, Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Allah subhanahu wata’ala turun ke langit-dunia pada sepertiga malam yang akhir yaitu di waktu sahur di akhir malam sampai datangnya waktu fajar.  Allah ketika melihat hamba-hambanya yang bangun di akhir malam itu berfirman: Siapa yang berdo’a kepada-Ku maka Aku ijabah do’anya.  Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri permintaannya. Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku ampuni dosa-dosanya”.  

Itulah jaminan dari Allah subhanahu wata’ala bagi sapa yang ingin meraihnya, yang ingin ampunan dan barokah dari-Nya. Maka jangan sia-siakan, Belum tentu kita bertemu lagi dengan Romadhon yang akan datang.  Bahkan sepuluh hari terakhir Romadhon ini apakah bisa kita jalani, kita tidak ada yang tahu. Bisa jadi kita “diambil” oleh Allah sebelum itu. Maka selagi Allah masih memberikan  kesempatan, jangan kita sia-siakan.

Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzy dan Ibnu Majah dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha : “Aku bertanya wahai Rasulullah, bagaimana aku bisa mengetahui bahwa ini adalah malam Lailatul Qadar.  
Apakah do’a yang paling baik kepada Allah ?.  Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Ucapkanlah doa : Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa wa’fu’anni” (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan Maha Pengampun, maka ampunilah aku).

Maknaya, pada saat malam Lailatul Qadar Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasalam mengajarkan hanya satu doa mohon ampun sebagaimana disebutkan di atas. Tidak minta do’a yang lain-lain. Karena ampunan dari Allah lebih baik dari pada dunia se-isinya. Karena orang yang telah diberi ampunan oleh Allah, maka ia akan diberikan kenikmatan-kenikmatan yang lain.
Terkadang kita keliru, dalam berdo’a yang diminta hanya kesuksesan di dunia saja.

Dalam Hadits, Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bercerita bahwasanya apabila ada hamba yang meminta ampun  kepada Allah, maka Allah subhanahu wata’ala demikian gembira menerima do’a tersebut, lebih gembira daripada seorang yang mendapatkan kembali barangnya yang hilang. Padahal barang itu sangat berharga baginya dan satu-satunya yang ia miliki dan banggakan.
Maka apabila kita berbuat dosa lalu memohon ampun  kepada Allah subhanahu wata’ala, Allah lebih suka dan gembira, serta pintu ampunan Allah tidak pernah tertutup.

Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu,  Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda :  “Barangsiapa yang mau bertaubat sebelum terlambat, yaitu sebelum terbitnya matahari dari barat (sebelum Kiamat), sebelum kematiannya, Allah pasti ampuni dosa-dosanya”.

Itulah jaminan dari Allah subhanahu wata’ala selama syarat-syaratnya terpenuhi. Dan anda tidak usah putus asa, seberapa besarpun dosa-dosa anda, Allah pasti ampuni, apabila anda segera bertaubat.

Dalam Surat Az Zumar ayat 53 dan 54 Allah subhanahu wata’ala berfirman :

سُوۡرَةُ الزُّمَر

۞ قُلۡ يَـٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا‌ۚ إِنَّهُ ۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ (٥٣)

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ayat 54 :

سُوۡرَةُ الزُّمَر

وَأَنِيبُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُواْ لَهُ ۥ مِن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَكُمُ ٱلۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ (٥٤)

Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).

Maka kita jangan ada yang berputus asa dari rahmat Allah subhanahu wata’ala. Semua dosa akan diampuni oleh Allah.  Semuanya,  berapapun besarnya, berapapun banyaknya tidak usah dirinci satu-persatu.  Semua dosa akan diampuni oleh Allah subhanahu wata’ala.  

Dalam Hadits, ketika sahabat Abubakar as Siddiq minta diajarkan do’a ketika sholat, (ketika duduk Tasyahud sebelum salam) kepada Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda (mengajarkan) : Ucapkanlah do’a :

Allahumma inni dzolamtu nafsi dzulman katsira, 
Wala yaghfiru dzunuba illa anta,
Faghfirli maghfirotammin ‘indik. 
Innaka antal ghofururrohim. 
Warhamni, innaka antal ghofururrohim.  

(Ya Allah, sesungguhnya aku ini banyak berbuat dzolim dan dosa,  Ampuni aku ya Allah, tidak ada yang bisa memberi ampunan kecuali Engkau, Ampunilah aku dan rahmati aku, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Rahmat).

Makananya, bahwa yang paling banyak dibaca oleh Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam adalah do’a memohon ampun kepada Allah subhanahu wata’ala.
Sementara kita manusia biasa yang banyak dimohon dan diminta adalah perkara dunia. Sedangkan do’a memohon ampun hanya beberapa kali saja.
Bagaimana mungkin Allah akan memberikan nikmat, kalau yang dimaksud nikmat hanya perkara dunia ?   Maka bersegeralah memohon ampun kepada Allah sebelum adzab (kematian), sebagaimana disebut dalam ayat 54 di atas.

Kesimpulan :
Yang paling utama dari buah manis dari ber-taubat adalah sebagaimana disebutkana dalam Surat At Tahrim ayat 8 :


Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Maksudnya, kalau kita benar-benar bertaubat, yaitu bertaubat dengan sebenar-benar taubat, dengan syarat taubat sebagaimana disebutkan di atas, maka Allah subhanahu wata’ala akan menjamin memberikan ampunan dan kita akan dimasukkan ke dalam surga. Itulah jaminan Allah,  buah manis dari bertaubat.  Nikmat dunia dan nikmat Akhirat.

Romadhon adalah bulan dimana dibuka pintu-pitnu Rahmat, dimana di antara pintu Rahmat adalah Al Maghfiroh (Ampunan-ampunan). Maka marilah kita raih dengan sungguh-sungguh. Jangan sia-siakan bulan Romadhon ini, agar kita mendapatkan Maghfiroh dan malam Lailatul Qadar suatu malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan beribadah.  Amin ya Robbal ‘alamin.

Tanya-Jawab.

Pertanyaan:
1.     Benarkah  wanita yang sedang Haid dilarang berziarah kubur ?
2.     Ada pernyataan seorang Ustadz yang mengatakan bahwa Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam belum tentu masuk surga.  Bagaimanakah sikap kita dengan pernyataan demikian itu ?
3.     Bagimanakah kalimat yang benar  do’a berbuka puasa ?

Jawaban:
1.Tidak ada dalil tentang larangan bagi wanita Haid untuk berziarah kubur.   Yang ada adalah yang disebutkan dalam Surat Al Baqarah ayat 222 bahwa wanita Haid dilarang untuk sholat, dilarang berhubungan suami isteri dan dilarang shaum (puasa).  Dalam Hadits Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam melarang wanita Haid masuk masjid.  Termasuk laki-laki dan wanita yang sedang junub, belum mandi junub dilarang masuk masjid.

2.Bagaimana dengan ucapan seorang ustadz yang berani dengan lantang mengatakan bahwa : Keliru dan salah kalau Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam sudah dijamin masuk surga ?.  Na’udzubillah !  Silakan cari di seluruh muka bumi ini ulama-ulama besar di muka bumi ini yang tahu dan mengerti tentang Aqidah, yang berani mengatakan bahwa Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam tidak dijamin masuk surga.  Tidak ada. 

Kecuali seorang ustadz yang katanya ustadz terbesar di Indonesia berani mengatakan demikian. Biarkan saja, Allah nanti yang akan menetapkan untuk dia. Padahal banyak ayat AlQur’an yang menyatakan pujian Allah terhadap Rasul-Nya.
Kalau Allah subhanahu wata’ala sudah memuji seseorang, bagaimana mungkin ia tidak masuk surga ?  Lihat Surat 68 ayat 4, Allah subhanahu wata’ala memuji langsung kepada Nabi Muhammad Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam :
سُوۡرَةُ القَلَم

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ۬ (٤)

Dan sesungguhnya kamu(Muhammad)  benar-benar berbudi pekerti yang agung.

Kalau akhlak sudah agung, kemana lagi kalau bukan Surga ?
Lihat Surat An Nisaa’ ayat 69 , Allah subhanahu wata’ala berfirman :


سُوۡرَةُ النِّسَاء

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡہِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّہَدَآءِ وَٱلصَّـٰلِحِينَ‌ۚ وَحَسُنَ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ رَفِيقً۬ا (٦٩)



Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

Berdasarkan ayat tersebut di atas, bahwa semua para Nabi dan orang-orang shiddikin, orang mati syahid, orang-orang sholih, dijamin oleh Allah subhanahu wata’ala akan masuk surga, tinggal di surga.  Lalu ada orang mengatakan bahwa Nabi Muhammad sholallahu ‘alaih wasallam tidak dijamin masuk surga. 
Bagaimana pikiran orang tersebut ? Memang ada kritik dari sana-sini, tetapi orang itu tidak bergeming.  Silakan saja kelak ia sendiri yang bertanggungjawab di Akhirat.

3.Do’a ketika berbuka puasa menurut Hadits riwayat Imam At Tirmidzyi dan Imam An Nasaai, Haditsnya shahih, adalah : Dzahabadzdzoma-u wabtalatil ‘uruqu  wa tsabatal ajru insya Allah (Telah hilang rasa haus dan urat-urat telah basah serta pahala telah tetap, insya Allah).

Disunnatkan ketika masuk waktu berbuka-puasa, mengucapkan : Alhamdulillah, Bismillah, lalu makan buah kurma  1 atau 3 biji (bukan minum dulu), barulah setelah makan kurma lalu minum air putih, lalu mengucapkan do’a tersebut di atas.
Demikian yang dilakukan oleh Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam.

Adapun do’a  Allhumma lakasumtu, dst., secara dhohir memang bagus, tetapi itu bukan contoh dari Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam. Tidak ada Hadits yang mengatakan demikian. Sebaiknya kita melakukan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam.

Sekian bahasan, mudah-mudahan bermanfaat.
SUBHANAKALLAHUMMA WABIHAMDIKA ASYHADU AN LAILAHA ILLA ANTA, ASTAGHFIRUKA WA ATUBU ILAIK.
Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

No comments:

Post a Comment