Translate

Monday, September 7, 2015

Kiat Mempertahankan Istiqomah, Oleh : Ustadz Ahmad Susilo, Lc.



 PENGAJIAN DHUHA MASJID BAITUSSALAM

 Kiat Mempertahankan Istiqomah
 Ustadz  Ahmad Susilo,  Lc.

Jum’at,  6 Dzulqo’dah 1436H – 21 Agustus 2015

---------------------------------------------------------------------------------------------------------
 Assalamu’alaikum wr.wb.,

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,
Bahasan berikut ini adalah tentang bagaimana mempertahankan Istiqomah dalam ibadah pasca Romadhon.   Biasanya manusia akan rajin dan tekun beribadah hanya dalam waktu atau situasi tertentu dan tempat tertentu saja.

Pertama,  ketika dalam keadaan susah, sulit hidup, lalu manusia akan dekat dengan Allah subhanahu wata’ala. Manusia akan meminta bantuan, pertolongan kepada Allah subhanahu wata’ala agar apa yang sedang diujikan itu segera diangkat.  Tetapi begitu diberi kemampuan, diberi kesenangan dan kekayaan, biasa manusia itu lupa.

Kedua,  manusia akan taat, rajin dan tekun beribadah ketika ada daya-tarik, seperti bulan Romadhon.  Ketika bulan Romadhon orang akan rajin beribadah, siang berpuasa, malamnya sholat Sunnah Tarawih di masjid.   Padahal di luar Romadhon ia tidak pernah sholat di masjid. Juga shodakohnya, tadarusnya, dilakukan dengan rajin.  Itu semua dilakukan karena bulan itu adalah bulan mulia, yaitu Romadhon,  yang di dalamnya ada malam Lilatul Qodar, yang nilanya lebih baik daripada seribu bulan.   Tetapi selesai bulan Romadhon, ibadah-ibadah tersebut ditinggalkan lagi.
Memang di luar Romadhon tidak ada Tarawih, tetapi ada sholat malam (Qiyamul Lail, Tahajud). Kenapa tidak lagi Tadarus, puasa Sunnah, Tahajud, dst.?.

Ketiga, ketika orang melakukan Umrah, atau Ibadah Haji di Masjidil Haram , di Masjid Nabawi, tetapi begitu kembali ke Tanah Air (Indonesia) tidak lagi serajin ketika di Mekkah/Madinah. Kenapa demikian ?   Itu semua karena mereka belum mengetahui ke-indahannya, kemuliaannya dan keutamaannya  semuah Ibadah-ibadah tersebut.

Maka kali ini kita bahas apa kiat-kiatnya, agar kita mampu mempertahankan amal-ibadah dengan baik, dimana  dan kapanpun kita berada. Bukan karena kondisi tertentu, tempat tertentu atau waktu tertentu.

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam AlQur’an Surat  An Nahl ayat 92 :

وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّتِى نَقَضَتۡ غَزۡلَهَا مِنۢ بَعۡدِ قُوَّةٍ أَنڪَـٰثً۬ا تَتَّخِذُونَ أَيۡمَـٰنَكُمۡ دَخَلاَۢ بَيۡنَكُمۡ أَن تَكُونَ أُمَّةٌ هِىَ أَرۡبَىٰ مِنۡ أُمَّةٍ‌ۚ إِنَّمَا يَبۡلُوڪُمُ ٱللَّهُ بِهِۦ‌ۚ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ مَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ (٩٢)

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain, sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.

Maksud ayat tersebut : Allah subhanahu wata’ala menyindir kita semua yang sudah beriman, agara jangan seperti seorang perempuan yang menyulam benang menjadi hasil sulaman yang bagus, tetapi di rusak lagi, berantakan lagi.
Jangan begitu, mestinya setelah menghasilkan sulaman yang bagus, tingkat keimanan yang bagus, harusnya dirawat, dijaga, agar jangan sampai ke-imanan kita rusak lagi, kusut lagi.

Maknanya : Kita sudah meningkatkan iman, dengan rajin dan tekun beribadah di bulan Romadhon, ibarat seorang perempuan yang menyulam benang dengan bagus sekali, setelah selesai Romadhon ke-imanan kita rusak lagi, sulaman yang sudah bagus cerai-berai kembali.
Seakan-akan ibadah hanya pantas di bulan Romadhon, selesai Romadhon ibadah ditinggalkan lagi.  Orang-orang seperti itu disindir oleh Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana ayat tersebut di atas.

Bagi anda yang bekerja, sebetulnya bekerja itu berat, setiap hari itu-itu saja yang dihadapi, membosankan dst. Tetapi semua itu dikerjakan, karena ada daya tarik, yaitu upah (gajian) atau materi yang diterima setiap bulan atau setiap pekan. Semakin bagus hasil kerjanya, prestasinya, dan semakin banyak bonus (insentif-nya), semakin mendapat penghargaan, jabatan dan kedudukan, itulah daya tariknya.  Sehingga tidak ada manusia yang bosan kerja.  Meskipun sudah pensiun, masih tetap ingin kerja, apakah ditempat lain, atau bekerja dengan cara lain, intinya ingin tetap bekerja. Karena ada daya tarik yaitu materi.

Hendaknya kita ketahui daya tarik dari ibadah. 
Jika kita ingin mempertahankan (Istiqomah) dalam peribadatan pada bulan-bulan selain bulan Romadhon, kita tingkatkan kualitasnya, meningkat lagi secara kuantitas.  Memang beda di bulan lain, karena ketika di bulan Romadhon kita shaum (puasa) sebulan penuh, tetapi di luar bulan Romadhon ada puasa Sunnah, Senin-Kamis, ada puasa pertengahan bulan (tanggal 13, 14 dan 15 bulan Hijriyah).  Malam harinya ketika Romadhon ada Sholat Tarawih berjamaah, tetapi di luar bulan Romadhon ada Sholat Malam (Qiyamullail), silakan dikerjakan.

Pada bulan Romadhon kita melakukan ibadah puasa, Taddarus, shodakoh, maka teruskan kegiatan peribadatan tersebut meskipun di luar bulan Romadhon, Umumnya kita diluar Romadhon lalu tidak mengerjakan ibadah-ibadah tersebut, karena belum tahu daya tariknya.

 Apa daya-tarik orang-orang yang Istiqomah di jalan Allah, yang selalu menjalankan perintah Allah di manapun berada ? Lihat AlQur’an Surat Ghofir (Al Mu’min) ayat 7 – 9 Allah subhanahu wata’ala berfirman :

ٱلَّذِينَ يَحۡمِلُونَ ٱلۡعَرۡشَ وَمَنۡ حَوۡلَهُ ۥ يُسَبِّحُونَ بِحَمۡدِ رَبِّہِمۡ وَيُؤۡمِنُونَ بِهِۦ وَيَسۡتَغۡفِرُونَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ رَبَّنَا وَسِعۡتَ ڪُلَّ شَىۡءٍ۬ رَّحۡمَةً۬ وَعِلۡمً۬ا فَٱغۡفِرۡ لِلَّذِينَ تَابُواْ وَٱتَّبَعُواْ سَبِيلَكَ وَقِهِمۡ عَذَابَ ٱلۡجَحِيمِ (٧) رَبَّنَا وَأَدۡخِلۡهُمۡ جَنَّـٰتِ عَدۡنٍ ٱلَّتِى وَعَدتَّهُمۡ وَمَن صَلَحَ مِنۡ ءَابَآٮِٕهِمۡ وَأَزۡوَٲجِهِمۡ وَذُرِّيَّـٰتِهِمۡۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ (٨) وَقِهِمُ ٱلسَّيِّـَٔاتِۚ وَمَن تَقِ ٱلسَّيِّـَٔاتِ يَوۡمَٮِٕذٍ۬ فَقَدۡ رَحِمۡتَهُ ۥۚ وَذَٲلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ (٩)


7. (Malaikat-malaikat) yang memikul 'Arsy dan Malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): "Ya Tuhan Kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala,

8. Ya Tuhan Kami, dan masukkanlah mereka ke dalam syurga 'Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,

9. Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu, maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar".

Ayat tersebut memberitahukan kepada kita bahwa para malaikat yang memikul ‘Arsy  dan para malaikat yang ada di sekelilingnya bertasbih mendo’akan kita orang-orang yang beriman agar Allah subhanahu wata’ala memberikan ampunan dan taubat kepada kita, serta menjauhkan kita dari api neraka.

Bayangkan, kita dido’akan oleh seorang Kiai, atau orang sholeh saja, kita sudah senang sekali,  apalagi dalam ayat tersebut yang mendo’akan adalah para Malaikat.  Dan do’a para Malaikat pasti dikabulkan.

Pada ayat berikutnya (ayat 8) malaikat mendo’akan kita memohon kepada Allah subhanahu wata’ala agar kita yang Istiqomah di jalan Allah, yang selalu mempertahankan ibadah di jalan Allah, dido’akan agar kita bisa Re-uni beserta keluarga kita di Surga. Berkumpul di surga bersama-sama orang-orang sholeh, bapak-bapak kita, orangtua kita serta pasangan kita, anak cucu kita.  Siapa yang tidak tergiur dengan kenikmatan yang demikian itu ?.


Kita yakin bahwa semua ingin mendapatkan do’a dari malaikat tersebut. Tetapi apakah dengan mudah kita mendapatkan itu ? Tidak. Kita harus berusaha Istiqomah, tetap mempertahankan amal-ibadah kita, bukan hanya baik ketika Romadhon, tetapi baik di seluruh tempat dan di seluruh waktu dan keadaan. Bila itu dilakukan, pasti para malaikat akan mendo’akan. Dan do’a malaikat pasti dikabulkan.

Pada ayat 9 : Malaikat masih mendo’akan untuk kita yang Istiqomah, agar mendapatkan kemenangan yang besar yaitu Surga.

Maknanya, bahwa jika kita Istiqomah (mempertahankan ibadah kita sebaik-baiknya) maka tawarannya, daya-tariknya tidak bisa dibandingkan dengan yang lain, ialah Surga.  Sayangnya, Surga itu tidak dilaporkan melalui malaikat-Nya secara langsung kepada kita lalu diberikan kepada kita kunci surganya ketika kita masih hidup di dunia. Tetapi kita yakin dengan iman kita bahwa apa yang kita lakukan itu maka Allah subhanahu wata’ala akan mengabulkannya.

Dan kita harus punya rasa ingin tahu, dengan sungguh-sungguh berharap pasti Allah subhanahu wata’ala akan mengabulkan harapan kita.  Tetapi ingat, jangan dengan kesombongan, lalu kita sudah merasa pasti mendapatkananya, itu yang tidak boleh.

Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasalalam yang sudah yakin pasti akan mendapatkan surga, tetapi beliau tidak pernah meninggalkan amal-ibadah. Bahkan beliau semakin rajin dalam beramal-ibadah. Demikian pula para sahabat beliau Abubakar as Siddiq, Umar bin Khathab, ‘Utsman bin ’Affan, Ali bin Abi Thalib serta sepuluh sahabat yang telah dijamin oleh beliau masuk surga, juga tidak pernah meninggal amal-ibadah, bahkan semakin rajin.

Adakah kita tahu bahwa amal-ibadah kita psati diterima ? Tidak tahu. Tetapi kita wajib meyakini bahwa jika kita beramal baik, dengan cara yang benar, mengikuti aturan Allah dan sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasul-Nya, kita melakukan dengan ikhlas, pasti Allah akan terima. Bukan dengan keyakinan tanpa alasan.  Dan keyakinan cukup disimpan dalam hati, tidak perlu sombong di hadapan orang.

Sebab banyak orang yang bangga dengan amalnya yang belum tentu diterima oleh Allah subhanahu wata’ala.  

Misalnya selesai ibadah Romadhon lalu orang berkata : “Saya beribadah di bulan Romadhon ini pasti diterima ibadah saya”. Berdoa tidak, mempertahankan ibadahnya tidak, bahkan lalu meninggalkan ibadah yang dilakukan di bulan Romadhon, orang ini terlalu PD dengan amal-ibadahnya.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam ketika selesai Romadhon, beliau mengajak para sahabat untuk memohon kepada Allah subhanahu wata’ala dan do’a beliau yang masyhur : Robbana traqobbal minna, taqobbalallah minna wa minkum
(Ya Tuhan kami, kabulkanlah ibadah kami, ya Allah semoga Engkau menga-bulkan amal-ibadah kami, ibadah kalian semua). 

Itupun  Para Salafushsholih berbulan-bulan kemudian sesudah Romadhon terus meminta dan berdo’a. Karena mereka tidak yakin seratus persen, kecuali penuh harap agar Allah subhanahu wata’ala.

Nabi Ibrahimalaihissalam ketika beliau selesai membangun Ka’bah, yang beliau minta kepada Allah subhanahu wata’ala sesudah Ka’bah dibangun : “Robbana taqobbal minna”.  Lihat Surat Al Baqarah ayat 127 – 128 beliau memohon agar Allah subhanahau wata’ala memberikan kekuatan :

وَإِذۡ يَرۡفَعُ إِبۡرَٲهِـۧمُ ٱلۡقَوَاعِدَ مِنَ ٱلۡبَيۡتِ وَإِسۡمَـٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّآ‌ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ (١٢٧) رَبَّنَا وَٱجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَيۡنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَآ أُمَّةً۬ مُّسۡلِمَةً۬ لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبۡ عَلَيۡنَآ‌ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ (١٢٨)

127. Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui".

128. Ya Tuhan Kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.


Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, seorang Nabi Kekasih Allah, yang sudah dijamin pasti masuk surga, bahkan beliau disebut sebagai Abul Anbiyaa (Bapak Para Nabi), setelah beribadah, do’a beliau adalah Robbana Taqobbal minna (Ya Tuhanku kabulkanlah ibadah dari kami).  Sementara itu yang terjadi pada kita : Kadang-kadang tidak berdo’a seakan-akan pasti diterima.  Selesai ibadah (sholat) lalu langsung pergi begitu saja, tanpa do’a barang sedikitpun.

Maka marilah kita selalu Istiqomah, selalu memohon kepada Allah subhanahu wata’ala, pertahankan amal-ibadah kita. Bahkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam ayat berikutnya  berdoa sebagaimana ayat 128 tersebut di atas. Bahkan dalam do’a beliau, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memohon petunjuk bagaimana cara Ibadah Haji.  Betapa banyak orang-orang yang beribadah tidak mengikuti cara-cara yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya.

Betapa banyak orang beribadah tetapi dengan cara-cara yang tidak ada dalilnya, tidak mengikuti cara-cara yang dicontohkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, lalu mengatakan : “Yang penting niat saya baik, kenapa begini tidak boleh, begitu tidak boleh”.  Padahal Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, seorang Nabi Besar, ketika hendak beribadah beliau meminta petunjuk kepada Allah subhanahu wata’ala,  tidak mengarang sendiri. Ibadah itu ada ketetapan dan aturan cara yang diberikan oleh Allah subhanahu wata’ala, Jangan  yang penting saya ibadah.

Maka orang yang beribadah sesuai dengan aturan dari Allah dan Rasul-Nya, insya Allah ia melakukannya dengan sempurna karena ilmu yang didapatkan, karena keyakinan yang didapatkan. Semoga Allah kabulkan.

Selanjutnya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memohon ampun dan bertaubat sebagaimana dalam ayat 128 tersebut di atas. Sudah beribadah, berdo’a minta ibadahnya dikabulkan, memohon petunjuk kepada Allah subhanahu wata’ala, agar menjadi orang yang selalu tunduk dan patuh, berserah diri kepada Allah subhanahau wata’ala, bahkan memohon petunjuk agar di ajarkan tatacara ibadah, sesudah itu beliau bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala.  Rangkaian yang demikian indah.

Terkadang ada orang-orang yang memohon ampun hanya ketika berbuat salah. Seakan-akan ampunan itu hanya ketika salah.  Padahal Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dalam sholat beliau,  do’a yang paling banyak beliau minta adalah : Memohon ampun. Bahkan ketika selesai salam menengok ke kanan dan  kiri langsung beliau mengucap Istighfar tiga kali memohon ampun.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling banyak memo-hon ampun.  Padahal beliau pasti diampuni oleh Allah subhanahu wata’ala, karena beliau adalah orang yang ma’shum (Suci dari dosa) dan dijamin masuk surga.  Karena Allah yang memberikan janji itu kepada beliau Rasulullah shollallahu ‘alaihi wsasallam. Tetapi beliau tetap Istiqomah, berharap lebih baik lagi. Mempertahankan amal-ibadah sebaik-baiknya.

Jaminan Allah subhanahu wata’ala kepada orang-orang yang selalu mempertahan-kan Aqidahnya, imannya, amal-ibadahnya, Istiqomah dalam ketaatannya, Surga pasti diraih dan dijaga dari rasa sedih, dari rasa takut dan tidak ada rasa duka-cita.

Allah subhanahu wata’ala  janjikan dalam Surat Al Ahqaf ayat 13 – 14 :

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَـٰمُواْ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ (١٣) أُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلۡجَنَّةِ خَـٰلِدِينَ فِيہَا جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ (١٤)


13. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap Istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.

14. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.

Ayat tersebut merupakan jaminan dari Allah subhanahu wata’ala, bila kita selalu Istiqomah, selalu beribadah di mana dan kapan-pun, maka kita akan dimasukkan ke dalam Surga.

Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, seorang sahabat bernama Sofyan bin Abdullah as Syaqofi mendatangi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Ya Rasulullah, ajarkan kepada aku satu kalimat dalam Islam yang bila itu engkau ajarkan kepadaku, aku tidak akan bertanya kepada siapapun sesudah ini, karena engkau telah menjelaskan kepada aku”. 
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda : “Katakanl;ah : Aku beriman kepada Allah kemudian aku  Istiqomah ( meneguhkan pendirianku)”.  

Maksud Istiqomah dalam Hadits tersebut : Pendiriannya kokoh, dimanapun dan kapanpun, demikian pula ibadahnya, termasuk menjauhi larangan Allah subhanahu wata’ala.    
Maka setelah mendapatkan nasihat dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam Sofyan bin Abdulla As Syaqofi  benar-benar menanamkan Istiqomah di dalam hatinya.  Walaupun manusia tidak akan sempurna Istiqomahnya.

Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, seorang sahabat bernama Handzolah Ibnu Muhsin Al Usayyid, yang ditunjuk oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam menjadi salah seorang penulis (pencatat, jurutulis) apa bila turun wahyu AlQur’an,  maka ditulislah ayat-ayat AlQur’an yang baru saja turun, di pelepah-pelepah kurma, di kulit kayu, atau apa saja dan dihafalkan luar kepala.

Suatu ketika Handzolah ditanya oleh Abubakar as Siddiq rodhiyallahu ‘anhu : “Bagaimana keadaanmu ya Handzolah?”. Maka dijawab oleh Handzolah : “Telah munafiq Hndzolah ini ya Abubakar”.   
Mendengar jawaban itu Abubakar as Siddiq terkejut, dan bertanya : “Subhanallah, kenapa gerangan denganmu ya Handzolah?”.

Handzolah menjawab : “Demi Allah, ya Abubakar, aku diperintah oleh Rasulullah untuk menulis dan menghafalkan AlQur’an, aku juga sering ta’lim mengikuti Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, dakwah beliau dan mendapatkan penjelasan AlQur’an langsung dari beliau, sehingga ketika aku dekat dengan Rasul, disampaikan ayat-ayat tentang neraka, seakan-akan tergambar didepanku neraka. Ketika disampaikan ayat-ayat tentang surga, tergambar nikmatnya surga di depan mataku. Sehingga aku berjanji dalam diriku  untuk Istiqomah, lebih taat lagi  mempertahankan amal-badah bahkan lebih meningkat.  Tetapi ketika aku pulang kerumah bertemu isteri, anak dan keluargaku, lalu urusan dunia, menggembala, bertani dan seterunsya, maka apa yang aku janjikan itu kadang aku lupa.  Bukankah orang yang lupa akan janjinya adalah munafik ?”.   

Maka Abubakar as Siddiq rodhiyallahu ‘anhu berkata : “Demi Allah, ya Handzolah, akupun kadang-kadang demikian itu”.  Ketika Abubakar mengatakan itu, ia takut jangan-jangan sifat munafik masuk ke dalam dirinya.  Abubakar berkata : “Ya Handzolah, mari kita mendatangi Rasulullah, kita ceritakan kepada beliau, dan kita tanyakan apakah perbuatan seperti kita termasuk munafik ?”.

Ketika mereka berdua bertemu Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan apa yang mereka alami, maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Demi Allah, wahai Handzolah, jika engkau selalu Istiqomah dalam hatimu,  di manapun kamu berada, apakah sedang berdagang, sedang di pasar, sedang menggembala atau bertani, tetapi kamu tetap bisa mempertahankan Istiqomah,  maka malaikat menaungimu, mendo’akanmu dan malaikat melindungimu”. 

Kemudian Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasalalam  menggerakkan tangannya ke atas-kebawah, dan mendatar sambil bersabda : “Iman itu kadang begini, kadang begini, dst.”.  Maksudnya menyatakan bahwa Iman itu kadang naik, kadang menurun dan mendatar.

Tidak ada yang mampu menjadikan  Iman itu naik terus menerus kecuali para Nabi dan Rasul dan tidak ada Iman yang menurun terus kecuali Iblis.  Dan tidak ada Iman yang selalu mendatar kecuali malaikat. Maka marilah mikta menjaga Iman, ketika iman naik, pertahankan.  Ketika Iman turun, naikkan.  Ketika Iman mendatar, tingkatkan.  Yang terpenting adalah berusaha untuk Istiqomah.

Lihat Surat Fushshilat ayat 30 – 32 :

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَـٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕڪَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمۡ تُوعَدُونَ (٣٠) نَحۡنُ أَوۡلِيَآؤُكُمۡ فِى ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِى ٱلۡأَخِرَةِ‌ۖ وَلَكُمۡ فِيهَا مَا تَشۡتَهِىٓ أَنفُسُكُمۡ وَلَكُمۡ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ (٣١) نُزُلاً۬ مِّنۡ غَفُورٍ۬ رَّحِيمٍ۬ (٣٢)


30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan Kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".

31. Kami(Allah)-lah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.

32. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Artinya, orang yang selalu Istiqomah yang terus selalu beribadah dimanapun ia berada, ia dijanjikan surga oleh Allah subhanahu wata’ala. Sebaliknya orang yang tidak Istiqomah,  Allah akan jerumuskan ke dalam Neraka Jahannam.
Semua itu terserah kita, Allah tidak mau memaksa. Karena tidak ada paksaaan dalam agama (La ikroha fiddin).  Kita taat atau tidak, maka Allah subhanahu wata’ala tidak  merugi.







Lihat Surat Al Kahfi ayat 29 Allah subhanahau wata’ala berfirman :

وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡ‌ۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡ‌ۚ إِنَّآ أَعۡتَدۡنَا لِلظَّـٰلِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِہِمۡ سُرَادِقُهَا‌ۚ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ يُغَاثُواْ بِمَآءٍ۬ كَٱلۡمُهۡلِ يَشۡوِى ٱلۡوُجُوهَ‌ۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا (٢٩)


Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami(Allah) telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.

Maka bila kita mempertahankan Istiqomah, maka kitalah yang untung. Dan bila kita tidak mau Istiqomah, silakan, Allah tidak akan rugi.

Dalam Hadits, diriwayatakan oleh Ibnu Majah,  Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam memberikan nasihat kepada salah seorang sahabat, dari  Sahal bin Sa’ad : Datang seorang laki-laki kemudian bertanya kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam :Ya Rasulullah ajarkan kepada aku sebuah amal yang jika aku mampu mengamalkannya maka Allah akan mencintaiku dan manusia-pun akan mencintaiku”.

Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Ber-zuhud-lah kamu di dunia, jangan terlalu serakah di dunia, jangan terlalu mencintai dunia, jangan kamu tergopoh-gopoh dengan dunia.  Carilah dunia sekedar untuk mencari Akhirat-mu.  Maka Allah pasti akan mencintaimu”.

Maksudnya : Ber-zuhud-lah kamu dengan apa yang ada di tangan manusia. Jangan iri dengan pemberian Allah kepada manusia yang lain.  Seperti kita tahu, kita ini sering iri kepada orang lain. Dalam hati kita sering berkata : “Itu tetangga tidak pernah sholat, tidak pernah  mengaji, tetapi rezkinya mengalir terus, Saya ini sudah sholat, membayar zakat, sodakoh, mengaji dst, tetapi begini-begini saja”.

Padahal itu semua adalah urusan Allah subhanahu wata’ala, kita tidak boleh iri. Karena semua itu adalah urusan Allah, jangan sampai kita tidak rela atas keputusan Allah kepada orang selain kita. Kalau kita ikhlas atas keputusan Allah pasti kita akan Istiqomah.

Juga Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam memberikan nasihat kepada sepupu beliau bernama Abdullah bin ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhu , dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzy,  Abdullahi bin ‘Abbas berkata : “Pada suatu waktu aku berkendaraan bersama (membonceng) di atas unta Nabi  Shollallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau bersabda kepadaku : Wahai anak muda, jagalah Allah, niscaya Allah akan selalu menjagamu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah”.  

Maksudnya : Jagalah semua aturan Allah, jagalah ketaatan kepada Allah, jauhilah larangan-Nya, pasti Allah subhanahu wata’ala akan selalu menjaga kita, keselamatan kita, kesejahteraan kita kesehatan kita, dst.

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surat Al Hijr ayat 98 – 99 :

فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ ٱلسَّـٰجِدِينَ (٩٨) وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ (٩٩)

98. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat),

99. Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).

Yang dimaksud “sujud” dalam ayat tersebut, bukan saja sujud dalam gerakan sholat saja, melainkan tunduk dan taat kepada Allah subhanahua wata’ala, dimana dan kapan-pun.   Karena banyak orang yang rajin sholat, bersujud,  tetapi ketika di luar sholat, ketika berdagang berlaku curang, mengurangi timbangan, ukuran dst. Ketika bekerja melakukan korupsi, ketika bermuamalah (bermasyarakat) suka berdusta, ingkar janji dst. 

Artinya orang yang demikian  itu baru sujud secara gerakan, tetapi belum “sujud” dalam arti tunduk dan taat kepada aturan Allah subhanahu wata’ala. Ketika sholat ia Takbir, tetapi di luar sholat ia Takabur dengan kekayaannya, jabatannya, pangkatnya yang ia miliki. Ketika sholat “men-sucikan” Allah subhanahu wata’ala, tetapi di luar sholat ia “sok suci”, merasa dirinya paling benar, tidak pernah salah, dst. Maka orang yang demikian itu tidak Istiqomah.

Maka dalam ayat 99 disebutkan (diperintahkan) : Sembahlah Tuhanmu sampai akhir hayat. Maknanya: Allah subhanahu wata’ala  memerintahkan kepada kita untuk beribadah sepanjang hidup, sampai ajal menjemput kita.  Berarti kita diperintahkan untuk selalu Istiqomah, terus beramal-ibadah, dimanapun dan kapanpun. Semoga Allah subhanahu wata’ala mengampuni kesalahan dan dosa kita.   Amin ya Robbal ‘alamin.

Sekian bahasan, mudah-mudahan bermanfaat.
SUBHANAKALLAHUMMA WABIHAMDIKA ASYHADU AN LAILAHA ILLA ANTA, ASTAGHFIRUKA WA ATUBU ILAIK.

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
                                                      _____________

No comments:

Post a Comment