Translate

Monday, April 25, 2016

Investasi Ala Nabi Yusuf, a.s. , oleh : Budi Hikmat



PENGAJIAN DHUHA MASJID BAITUSSALAM

Investasi Ala Nabi Yusuf,  a.s.
Budi Hikmat

         
Jum’at,  30 Jumadal Akhir 1437H – 8 April 2016.

 Assalamu’alaikum wr.wb.,

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,

Selama ini Nabi Yusuf ‘alaihissalam oleh kita  dikenal sebagai seorang Nabi yang berwajah ganteng (gagah) yang tahan digoda seorang wanita cantik.   Padahal itu sebagian kecil saja dari kisah beliau. Yang lebih banyak kita pelajari dan cermati Nabi Yusuf ‘alaihissalam adalah kecuali seorang Nabi, beliau juga terkenal sebagai seorang Ekonom dan Fund Manager.

Dalam AlQur’an, kisah beliau dikenal sebagai kisah terbaik (Ahsanul Qashas)  dan beliau diberikan kemampuan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk menerjemahkan mimpi. Dan mimpi dalam dunia professional sering disebut Visi.   Ketika itu Sang Raja Mesir bermimpi melihat ada sapi yang gemuk  lalu datang lagi sapi yang kurus, juga tentang gandum yang berisi dan gandum yang kopong.

Makna mimpi tersebut diterjemahkan oleh Nabi Yusuf alaihissalam sebagai isyarat bahwa di Mesir akan terjadi masa kejayaan, subur-makmur, rakyat sejahtera,  tetapi sesudah itu akan akan terjadi masa kekeringan, paceklik, sulit bahan-pangan.
Bila di dalam dunia ekonomi disebut Siklus Bisnis.   Hebatnya, Nabi Yusuf ‘alaihissalam tidak hanya sekedar bisa menerjermahkan mimpi, melainkan beliau memberikan saran jalan keluar dari kesulitan negeri Mesir ketika itu.

Sebagaimana disebutkan dalam AlQur’an Surat Yusuf ayat 47 :

Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.

Ayat 48 :

Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.

Dari ayat tersebut, Nabi Yusuf ‘alaihissalam mengatakan tiga hal :
1.     Menanam berturut-turut.
2.     Pengawetan hasil tanaman (bahan-pangan)
3.     Penghematan (dimakan sedikit-sedikit).

Apa yang terjadi di Indonesia?
Di Indonesia hampir semua kebutuhan barang adalah impor dari luar negeri. Padahal kalau kita mendalami saran Nabi Yusuf ‘alaihissalam, beliau mendidik kita untuk menjadi eksportir, bukan importir.  Karena sebenarnya produk kita berlimpah, bagus, awet, sampai ke tangan konsumen dalam keadaan kualitas terbaik.  Maka seharusnya kita lebih banyak ekspor. Sedikit kita gunakan/makan, atau disisakan untuk benih penanaman berikutnya.

Faktor tersebut sebenarnya yang akan menjadikan bangsa Indonesia lebih maju. Bila Indonesia banyak mengekspor, tentu akan mendapatkan Valas (Valuta Asing), lebih banyak, dan nilai Rupiah akan menguat.   Tetapi bila impor terus-menerus, dimana untuk impor menghabiskan Valas,  maka akibatnya nilai Rupiah akan anjlok (menurun drastis).

Saran Nabi Yusuf ‘alaihissalam dalam ayat tersebut (Saran ketiga) : Maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dalam bulirnya (tangkainya) – maksudnya agar diawetkan (diadakan pengawetan).  Kecuali sedikit untuk kamu makan – Artinya diadakan penghematan.

Pelaksanaan di negeri kita adalah : Diadakan teknologi pengawetan antara lain dengan Storage, termasuk dalam pendistribuasiannya.  Kecuali yang sedikit untuk kamu makan, maksudnya : Penghematan.  Tetapi kenyataannya kita tidak bisa berhemat dalam makan.  Buktinya ketika bulan Romadhon, dimana orang  diwajibkan berpuasa tetapi ternyata kebutuhan untuk makan justru meningkat dan menyebabkan harga-harga bahan makanan meningkat. Artinya maksud puasa agar berhemat tidak tercapai.

Di kita para Ekonom hanya melihat pergantian masa malang – masa gemilang sebagai fenomena dalam kurun waktu tujuh tahun, ekonomi meningkat, harga karet, batubara naik.  Tetapi sekarang harga merosot, penjualan kendaraan bermotor, property turun, lalu bagaimana menaikkan lagi, semua itu pekerjaan para ekonom. Kebanyakan kita semua lupa bahwa pergantian masa malang dan masa gemilang sering terjadi dalam waktu yang lebih panjang (lama). Yaitu ketika pada akhirnya setiap orang akan memasuki masa pensiun.

Apakah kita punya sumber untuk membiayai kehidupan kita, paling tidak dua hal : Mempersiapkan Asuransi dan Investasi. Sementara itu banyak yang karena gagal berdagang, bangkrut dari perniagaannya, di hari tuanya menjadi minder, putus asa.  Maka kami sarankan untuk orang yang semacam itu perbanyaklah dzikir, bersabar.  Bagi yang berumur 70 tahun ucapkanlah dalam dzikirnya  70 kali ucapan :


Lailaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzdzolimin (Doa Nabi Yunus ‘alaihissalam) . Artinya :  Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau  sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang aniaya.(Surat Al Anbiyaa 87).

Do’a tersebut ampuh sekali untuk mengusir kegalauan. Do’a tersebut diucapkan oleh Nabi Yunus  a.s. ketika berada dalam perut ikan. Suasana serba gelap, tidak tahu ia berada di mana, karena serba gelap. Beliau bingung, tidak tahu jalan keluarnya. Maka beliau berdoa sebagaimana tersebut di atas. Anatomi dari doa tersebut ada tiga : Kalimat kebenaran yaitu Lailaha illa anta (Tidak ada sesembahan kecuali Engkau (Allah), kalimat ibadah : Subhanaka (Mahasuci Engkau) dan kalimat pengakuan : Inni kuntu minadzdzolimin (Sesungguhnya aku ini orang yang aniaya).

Setelah ayat tersebut yaitu ayat 88 Allah subhanahu wata’ala menyatakan :  Maka Aku hilangkan kegundahan dalam hatinya. Surat Al Anbiyaa ayat 88 :

Maka Kami(Allah) telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.

Nabi Yusuf ‘alaihissalam menjadi seorang ahli Pengelola Dana (Fund Manager)  ketika itu beliau menyarankan kepada pihak kerajaan Mesir dalam rangka meng-antisipasi masa malang (masa paceklik)  yang lebih panjang. Saran Nabi Yusuf ‘alaihissalam itu menjadi dasar pijakan yang luar-biasa, untuk investasi sepanjang hayat  (Life cycle Investing).

Masa Pertumbuhan (Grouwth).

Di sinilah bertemu pemahaman di pasar-modal, di investasi, dll.  Maka kita sejak kecil biasakan menanam (menabung) dan Allah subhanahu wata’ala yang menumbuhkan (invest) dan jangan menanam investasi dari uang sisa.  Karena tidak pernah akan ada uang sisa. Kita harus menyadari sesuatu yang harus kita bayar di masa datang, maka sebaiknya kita persiapkan.  Mirip BPJS, langsung dipotong dari gaji/upah. Di sinilah mulai fase pertumbuhan (Grouwth).

Saran kedua dari Nabi Yusuf ‘alaihissalam adalah proteksi (perlindungan) dan saran terakhir adalah distribusi (pemerataan pembagian). Yang paling baik adalah investasi saham. Saham adalah kepemilikan dalam perusahaan.

Contoh : Pemilik saham terbesar  PT Telkomsel (40% saham) dimiliki oleh Singtel (Singapore Telkom).  Karena Singapor tahu bahwa Indonesia adalah “Pohon yang tumbuh besar”, apalagi Indonesia adalah Federasi Facebook terbesar.  Dan ada trend baru (tiga tahun terakhir) : Orang Indonesia boleh Lebaran tidak pakai baju baru sehingga penjualan pakaian di Tanah Abang turun, tetapi pulsa telepon ketika arus-mudik Lebaran penuh.  Direktur Keuangan PT Telkomsel menyatakan  bahwa satu hari dari  Pulsa Pra-bayar (Voucher) uang masuk Rp 300 milyar/hari.

Bayangkan bila anda punya saham dari PT Telkomsel, maka anda akan mendapatkan deviden setiap tahun.  Artinya ada hasilnya, karena kita punya “Pohon yang berbuah”.   Menanam berarti mengetam, ada buahnya. Menanam keberuntungan. Kita banyak sumber keberuntungan. Kalau kita cermati (baca) penduduk Indonesia 37% berusia dibawah 30 tahun. Itu kelompok pembelanja.

Bila kaidah Nabi Yusuf ‘alaihisalam diterapkan di Indonesia, yaitu sebagian pendapatan anda di investasikan, baik itu di saham atau cicilan property atau cicilan asuransi, maka nantinya suatu saat penghasilan anda bukan dari pekerjaan melainkan dari “pohon”  yang kita tanam. Semakin cepat Non Labour Income (Penghasilan di luar pekerjaan) ini bisa menutupi Labour Income (Penghasilan dari pekerjan).

Masyarakat Indodnesia adalah masyarakat yang tertipu.  Kita diajari menabung tetapi menabung itu sifatnya pasif.  Lebih baik membeli saham bank. 
Kalau menabung rata-rata per-tahun hanya dapat 5% per-tahun. Sedangkan bila membeli saham bank, maka akan mendapat 23% pertahun.  Pilih mana ? Sementara inflasi rata-rata 7%.  Akan ada masa malang dan masa-gemilang.  Masa-malang adalah ketika pensiun. . Dan saat ini banyak orang yang sakit sedikit saja menjadi miskin (sa-di-kin).

Investasi adalah menanam keberuntungan. Lakukan sebagaimana dilakukan oleh Nabi Yusuf ‘alaihissalam.  Insya Allah bahasan akan kita lanjutkan pada pertemuan yang akan datang.

Sekian bahasan mudah-mudahan bermanfaat.
SUBHANAKALLAHUMMA WABIHAMDIKA ASYHADU AN LAILAHA ILLA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUBU ILAIK.

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.


Catatan Admin :
Narasumber : Budi Hikmat, saat ini bekerja di PT Bahana TCW investment (Fund Manager) , beliau pakar ekonomi makro. contact : budi_hikmat@bahana.co.id
                                                        _____________
                        

No comments:

Post a Comment