Translate

Monday, August 29, 2016

Indahnya Pelangi Ukhuwah, Oleh : Hendri Tanjung, Ph.D.



PENGAJIAN DHUHA MASJID BAITUSSALAM


Indahnya Pelangi Ukhuwah
Hendri Tanjung, Ph.D.

Jum’at, 23 Dzulqo’dah 1437H – 26 Agustus 2016.

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,
Berbicara tentang Ukhuwah, ternyata menurut Sayid Hawa dalam salah satu Kitab-nya,  Ukhuwah (Persaudaraan) adalah nikmat Allah subhanahu wata’ala. Apalagi bila seseorang sedang menderita sakit dan di rawat di rumah-sakit, ketika ada seorang saudara (sahabat) datang berkunjung (menjenguk), maka akan terasa nikmat sekali Ukhuwah (persaudaraan)  itu baginya.

Hanya orang-orang tertentu (beriman) yang diberikan Ukhuwah secara mendalam. Orang yang tidak beriman, maka ukhuwah mereka adalah semu.  Apalagi orang-orang yang munafik, ukhuwahnya hanya bersifat pura-pura (klise). Bila tujuannya sudah tercapai, maka pertemanan (ukhuwahnya) selesai/putus.

Tetapi bagi orang yang beriman, ukhuwah itu meresap sampai dalam jiwanya. Contohnya : Orang-orang yang beribadah Haji ketika melakukan Thawaf di depan Ka’bah, mereka dari berbagai bangsa dan suku di dunia ini, berbagai macam warna kulit, dst,  tetapi sangat terasa persaudaraan di antara mereka ketika itu.  Kenikmatan terasa sekali ketika kita dipersatukan. Maka Ibadah Haji adalah ibadah  yang luar-biasa, mempertemukan dan mempersatukan manusia dari seluruh bangsa di dunia, merasa bersatu dan bersaudara dalam Islam. Bagi orang yang sudah ber-Haji merasakan betapa nikmatnya ibadah Haji.  Mengalahkan semua ibadah yang lain.

Ukhuwah adalah nikmat Allah subhanahu wata’ala.  Dan nikmat ukhuwah itu bisa kita rasakan apabila kita berpegang-teguh pada tali ajaran Allah subhanahu wata’ala.   

Lihat AlQur’aan Surat Ali Imran ayat 103 :
سُوۡرَةُ آل عِمرَان

وَاعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰهِ جَمِيۡعًا وَّلَا تَفَرَّقُوۡا‌ وَاذۡكُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰهِ عَلَيۡكُمۡ اِذۡ كُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَ لَّفَ بَيۡنَ قُلُوۡبِكُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِهٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَكُنۡتُمۡ عَلٰى شَفَا حُفۡرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَكُمۡ مِّنۡهَا ‌ؕ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَـكُمۡ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُوۡنَ‏ ﴿۱۰۳﴾  


Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Dari ayat tersebut, bahwa menjaga ukhuwah (persatuan umat Islam) adalah perintah agama. Hukumnya Wajib. Dalam Ilmu ‘Ushul Fiqih, semua perintah dalam AlQur’an hukumnya Wajib. Misalnya : Perintah Sholat, membayar Zakat, Puasa di bulan Romadhon, Jihad, dst. Termasuk larangannya, kita wajib menghindarinya.

Maka kita wajib menjaga Ukhuwah.  Memang terkadang tidak mudah menjaga Ukhuwah.  Godaan Ukhuwah adalah besar.  Karena syaithan tidak ingin umat Islam bersatu. Bila umat Islam di dunia bersatu, maka habislah musuh-musuh Islam.  Yang demikian itu syaithan tidak mau. Syaithan ingin orang Islam berpecah-belah.   Itulah yang digunakan oleh pemerintahan penjajah Belanda zaman dahulu. Bangsa Indonesia dipecah-belah, tidak boleh bersatu, agar Indonesia tetap dalam penjajahan Belanda. Dan ternyata benar, selama 450 tahun Indonesia dijajah Belanda.

Dalam ayat tersebut diperintahkan : Berpegang-teguhlah (Wa’tashimu) pada tali (Agama) Allah swt. Dan diingatakan ketika kaum muslimin di zaman Jahiliyah mereka selalu bermusuhan satu suku dengan suku yang lain. 
Antara kabilah-kabilah selalu bermusuhan.  Tetapi setelah masuk Islam mereka bersatu, dalam Ukhuwah Islamiyah, . Sampai-sampai suku-suku yang belum masuk Islam ketika itu menjadi heran, melihat mereka yang semula bermusuhan, setelah masuk Islam menjadi bersatu, saling mengasihi (Ruhama bainahum).

Dengan nikmat Ukhuwah tersebut mereka bersaudara. Padahal sebelumnya mereka berada di tepi jurang Neraka, terpecah-belah, maka diselamatkan oleh Allah subhanahu wata’ala, dan bersatulah mereka dalam persaudaraan yang kuat.
Dengan ayat tersebut Allah subhanahu wata’ala  mengingatkan tentang betapa nikmatnya Ukhuwah  dan agar kaum muslimin selalu mendapatkan petunjuk.

Maka kita diperintahkan untuk menjaga Ukhuwah Islamiyah, meskipun tidak mudah menjaga Ukhuwah.  Banyak persoalan-persoalan yang sensitiv dalam Ukhuwah, karena banyak menyangkut soal-soal perasaan.

Solusi menjaga Ukhuwah.
Kita perlu menjaga mengelola hati (manajemen kalbu).  Biasanya yang merusak Ukhuwah adalah : Perasaan Iri, dengki, hasad, mudah tersinggung, merasa direndahkan, dst.   Padahal Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan keteladanan kepada kita, betapa beliau orang yang sangat sabar. Beliau dihina, dicaci-maki, tetapi beliau tetap besabar dan tidak membalas.  Semua diserahkan kepada Allah subhanahu wata’ala.

Dengan kesabaran Rasulullah swt tersebut akhirnya sampailah Islam kepada kita, Alhamdulillah.  Manajemen hati harus kita jaga, bagaimana agar kita sesama muslim tidak terpecah-hati.  Pecah-hati adalah seperti bersatu tetapi dalam hati kita terpecah-belah. Dalam satu organisasi perusahaan bawahan menjelek-jelekkan atasan, anak buah menjelek-jelekkan pimpinan dst. Sesama karyawan tetapi saling menjelek-jelekkan. Yang demikian akan menimbulkan perpecahan. Maka hendaknya dijaga jangan sampai ada yang saling menjelekkan.

Bagaimana menata hati.
Ialah dengan PTIQ (Paham, Taat, Ikhlas, Qurban).

1.Paham, maksudnya mengerti. Berbeda dengan tahu (mengetahui). Bila seseorang paham bahwa di suatu tempat sedang dibangun masjid, maka ia akan menyumbang, memberikan sumbangan untuk masjid tersebut. Bukan sekadar tahu, melainkan mengerti.  Seseorang yang paham bahwa ada temannya yang sakit, maka ia akan menjenguknya.
Dia paham bahwa menjenguk orang sakit adalah ibadah. Bukan sekedar tahu.  Bila sekedar tahu maka ia tidak akan menjenguk temannya itu. Itulah gunanya menata hati.

2.Taat, artinya patuh, tunduk, konsekuen, bertanggungjawab. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah mutlak karena keyakinan Aqidah dan  keimanan serta keridhoan Allah subhanahu wata’ala.  Termasuk taat kepada pemimpin.  Maka ketika memilih pemimpin pilihhlah orang yang beriman dan taat kepada Allah subhanahu wata’ala.  Pemimpin bukan sekedar bisa memimpin rakayat, men-sejahterakan rakyat, tetapi pemimpin harus bisa mengajak rakyat untuk taat kepada Allah subhanahu wata’ala.  Bila pemimpin bukan orang Islam, bagaimana mungkin ia bisa mengajak rakyat yang dipimpinnya untuk taat kepada Allah subhanahu wata’ala.

Lihat Surat Al Mumtahanah ayat 1 :

سُوۡرَةُ المُمتَحنَة
بِسۡمِ اللهِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِيۡمِ

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَتَّخِذُوۡا عَدُوِّىۡ وَعَدُوَّكُمۡ اَوۡلِيَآءَ تُلۡقُوۡنَ اِلَيۡهِمۡ بِالۡمَوَدَّةِ وَقَدۡ كَفَرُوۡا بِمَا جَآءَكُمۡ مِّنَ الۡحَـقِّ‌ ۚ يُخۡرِجُوۡنَ الرَّسُوۡلَ وَاِيَّاكُمۡ‌ اَنۡ تُؤۡمِنُوۡا بِاللّٰهِ رَبِّكُمۡ ؕ اِنۡ كُنۡـتُمۡ خَرَجۡتُمۡ جِهَادًا فِىۡ سَبِيۡلِىۡ وَ ابۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِىۡ ‌ۖ تُسِرُّوۡنَ اِلَيۡهِمۡ بِالۡمَوَدَّةِ ‌ۖ وَاَنَا اَعۡلَمُ بِمَاۤ اَخۡفَيۡتُمۡ وَمَاۤ اَعۡلَنۡتُمۡ‌ؕ وَمَنۡ يَّفۡعَلۡهُ مِنۡكُمۡ فَقَدۡ ضَلَّ سَوَآءَ السَّبِيۡلِ‏ ﴿۱﴾  

  
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; Padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. dan Barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, Maka sesungguhnya Dia telah tersesat dari jalan yang lurus.

Dalam ayat tersebut, yang dimaksud “musuh-Ku dan musuhmu” adalah orang Yahudi, orang Nasrani dan orang kafir. Artinya jangan mengangkat (memilih) mereka menjadi pemimpin.   Allah swt. tidak ridho.
Bila Allah swt. tidak ridho maka celakalah hidup kita. Maka bila ingin diridhoi Allah swt. jangan mengangkat orang kafir sebagai pemimpin. Memilih pemimpin dalam arti pemimpin yang  mengajak rakyat untuk taat kepada Allah subhanahu wata’ala.

Pemimpin apapun harus kita ketahui riwayat awalnya, ketika kecil seperti apa, dst.  Karena apa yang akan dilakukan terpengaruh oleh masa kecilnya, riwayat awalnya. Maka kita harus tahu riwayat awal dari orang yang akan kita pilih menjadi pemimpin.  Pemimpin harus ber-ilmu dan kuat fisiknya.

Lihat Surat Al Baqarah ayat 247 : 

سُوۡرَةُ البَقَرَة

وَقَالَ لَهُمۡ نَبِيُّهُمۡ اِنَّ اللّٰهَ قَدۡ بَعَثَ لَـکُمۡ طَالُوۡتَ مَلِكًا ‌ؕ قَالُوۡٓا اَنّٰى يَكُوۡنُ لَهُ الۡمُلۡكُ عَلَيۡنَا وَنَحۡنُ اَحَقُّ بِالۡمُلۡكِ مِنۡهُ وَلَمۡ يُؤۡتَ سَعَةً مِّنَ الۡمَالِ‌ؕ قَالَ اِنَّ اللّٰهَ اصۡطَفٰٮهُ عَلَيۡکُمۡ وَزَادَهٗ بَسۡطَةً فِى الۡعِلۡمِ وَ الۡجِسۡمِ‌ؕ وَاللّٰهُ يُؤۡتِىۡ مُلۡکَهٗ مَنۡ يَّشَآءُ ‌ؕ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيۡمٌ‏ ﴿۲۴۷﴾  

Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu." mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa." Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha mengetahui.

Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa pemimpin harus orang yang ber-ilmu dan tubuhnya kuat (sehat).  Demikian pula ketika memilih Imam Masjid, hendaknya dipilih dari orang yang paling tinggi ilmu agamanya  dan termasuk dalam Jamaah Inti di masjid tersebut.  Jamaah inti adalah orang yang selalu rajin datang berjamaah di masjid, bukan orang yang hanya kadang-kadang berjamaah di masjid.

Orang kafir adalah musuh umat Islam. Sebagaimana disebutkan dalam Surat Al

Anfal ayat 73 :
سُوۡرَةُ الاٴنفَال

وَالَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا بَعۡضُهُمۡ اَوۡلِيَآءُ بَعۡضٍ‌ؕ اِلَّا تَفۡعَلُوۡهُ تَكُنۡ فِتۡنَةٌ فِى الۡاَرۡضِ وَفَسَادٌ كَبِيۡرٌؕ‏ ﴿۷۳﴾  


Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai Para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.

Maknanya, bahwa musuh kita (umat Islam) adalah orang kafir. Mereka saling tolong-menolong dalam memusuhi orang Islam. Kita tidak memusuhi mereka, tetapi merekalah yang memusuhi kita.  Maka kita harus melawan. Demikian itu yang terjadi kalau orang Islam sudah dikuasai oleh orang non-muslim. Kita bisa lihat di Myanmar, dimana umat Islam minoritas, mereka disiksa dan dibunuhi oleh orang non muslim.  Demikian pula yang terjadi di India, karena minoritas, maka umat Islam di India ditindas, disiksa dan diperlakukan tidak adil.  Masjidnya dibakar.

3.Ikhlas, artinya semua yang dilakukan adalah karena Allah swt. Ada unsur maksimal dalam bekerja. Ketika sholat maka sholatnya dilakukan :
1.     Semaksimal mungkin. Yaitu sholat di awal waktu,
2.     Tuma’ninah, gerakan sholatnya tenang, bersungguh-sungguh, tidak terburu-buru, sempurna baik gerakan maupun bacaannya.
3.     Sesuai dengan Syari’at (Contoh Rasulullah saw). 

4.Qurban, maksudnya memberikan (mengeluarkan) segala sesuatu yang disayanginya untuk orang lain. Lihat Surat Al Hasyr ayat 9 :
سُوۡرَةُ الحَشر

وَالَّذِيۡنَ تَبَوَّؤُ الدَّارَ وَالۡاِيۡمَانَ مِنۡ قَبۡلِهِمۡ يُحِبُّوۡنَ مَنۡ هَاجَرَ اِلَيۡهِمۡ وَلَا يَجِدُوۡنَ فِىۡ صُدُوۡرِهِمۡ حَاجَةً مِّمَّاۤ اُوۡتُوۡا وَيُـؤۡثِرُوۡنَ عَلٰٓى اَنۡفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٌ ؕ وَمَنۡ يُّوۡقَ شُحَّ نَـفۡسِهٖ فَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ‌ۚ‏ ﴿۹﴾  


Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung

Maksud ayat tersebut adalah mengutamakan tamu, orang yang baru datang. Meskipun dirinya dalam keadaan kekurangan.
-         Memuliakan tamu. Sebagaimana sifat orang Arab ketika kedatangan tamu, maka mereka sangat mengutamakan tamu, memuliakannya. Yaitu dengan cara segera mengeluarkan makanan dan minuman untuk disuguhkan kepada tamunya.  Bila hal tersebut dipraktekkan dalam kehidupan kita kaum muslimin sehari-hari, kita muliakan saudara kita, baik itu teman kerja, atasan, bawahan, pasti Ukhuwah akan muncul.  Kebalikannya adalah Suhha (kikir, pelit).
-         Mendo’akan orang lain. Tetapi tidak usah diberitahukan kepada orang yang didoakan. Agar terjaga ke-ikhlasan do’anya dan terjaga pahalanya.
-         Hilangkan iri-dengki. Inilah perbuatan yang berat. Sebaik-baik orang pasti punya rasa iri-dengki.  Syaithan tidak rela bila manusia tidak punya sifat iri-dengki.   Maka kita usahakan sekuat mungkin menghilangkan rasa iri-dengki.
-         Qurban Perasaan.  Itulah pengurbanan yang paling tinggi. Qurban perasaan biasanya karena tersinggung. Maka usahakan agar tidak cepat tersinggung. Lihat Surat Al Kahfi ayat 28 :
-          
-          سُوۡرَةُ الکهف

-          وَاصۡبِرۡ نَـفۡسَكَ مَعَ الَّذِيۡنَ يَدۡعُوۡنَ رَبَّهُمۡ بِالۡغَدٰوةِ وَالۡعَشِىِّ يُرِيۡدُوۡنَ وَجۡهَهٗ‌ وَلَا تَعۡدُ عَيۡنٰكَ عَنۡهُمۡ‌ ۚ تُرِيۡدُ زِيۡنَةَ الۡحَيٰوةِ الدُّنۡيَا‌ ۚ وَ لَا تُطِعۡ مَنۡ اَغۡفَلۡنَا قَلۡبَهٗ عَنۡ ذِكۡرِنَا وَاتَّبَعَ هَوٰٮهُ وَكَانَ اَمۡرُهٗ فُرُطًا‏ ﴿۲۸﴾  
-          
-         Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.

Maksudnya, agar kita bersabar, tidak boleh cepat tersinggung. Kita tidak boleh ingin cepat berhasil, jangan mengikuti hawa-nafsu sehingga cepat marah, tersinggung dst. Bersabar juga merupakan pengurbanan hati (perasaan).  Bila kita bersabar, maka insya Allah kita akan diberikan kemudahan oleh Allah subhanahu wata’ala.
Sekian bahasan, mudah-mudahan bermanfaat.
SUBHANAKALLAHUMMA WABIHAMDIKA ASYHADU AN LAILAHA ILLA ANTA, ASTAGHFIRUKA WA ATUBU ILAIK.
Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
                                                           ____________

No comments:

Post a Comment