Translate

Monday, April 30, 2018

Sejarah Periwayatan AlQur’an , oleh : Ustadz Abu Ezra Laili Al Fadhli


PENGAJIAN DHUHA MASJID BAITUSSALAM
               

Jum’at, 4 Sya’ban 1439H – 20 April 2018.




Assalamu’alaikum wr.wb.,

Muslimin dan muslimah yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,
Tentang sejarah periwayatan AlQur’an dari masa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam sampai kepada kita, bagaimana para Ulama menjaga keutuhan, keaslian dan kemurnian AlQur’an, maka hendaknya kita berkenalan terlebih dahulu dengan AlQur’an.

Para ulama mengatakan bahwa AlQur’an adalah Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam  Ada Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s. yaitu Taurat, kepada Nabi Dawud a.s. yaitu Zabur, yang diturunkan kepada Nabi Isa a.s. yaitu Injil.
Keistimewaan AlQur’an dibandingkan dengan Kalamullah yang lain (yang diturunkan kepada Nabi-Nabi yang lain), antara lain bahwa AlQur’an bersifat sebagai Mu’jizat. Dan Mu’jizat Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam jumlahnya ratusan, salah satunya adalah AlQur’an.

Pertama, dari susunan kata dan ayatnya saja AlQur’an tidak ada yang bisa menandingi. Bahkan Allah subhanahu wata’ala menantang dalam AlQur’an, siapa yang ragu terhadap kebenaran AlQur’an, silakan membuat yang semisal satu ayat saja, dan tantangan tersebut sampai sekarang masih berlku, tetapi tidak pernah ada yang bisa membuat satu ayat saja yang semisal dengan Ayat AlQur’an.

Lihat AlQur’an Surat Al Baqarah ayat 23  :


وَاِنۡ کُنۡتُمۡ فِىۡ رَيۡبٍ مِّمَّا نَزَّلۡنَا عَلٰى عَبۡدِنَا فَاۡتُوۡا بِسُوۡرَةٍ مِّنۡ مِّثۡلِهٖ وَادۡعُوۡا شُهَدَآءَكُمۡ مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰهِ اِنۡ كُنۡتُمۡ صٰدِقِيۡنَ‏ ﴿۲۳﴾  

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami(Allah) wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

Kedua, dari sisi konten-nya, betapa banyak konten (isi) yang baru saja bisa dipahami, misalnya konten yang berhubungan dengan bidang kedokteran (medis), di zaman Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam orang tidak paham, setelah beratus tahun kemudian barulah para ahli kedokteran menemukan, ternyata apa yang dikatakan AlQur’an sesuai dengan penelitian ilmiahnya.

Demikian pula di bidang biologi, astronomi dsb., maka baik lafadz, susunan katanya maupun  kontennya AlQur’an merupakan Mu’jizat.
Mu’jizat artinya sesuatu yang melemahkan. Selalu mengalahkan lawannya.

Ketiga, di antara keistimewaan yang lain dari AlQur’an adalah : Senantiasa bernilai ibadah ketika kita membacanya, walaupun tidak paham maknanya.
Misalnya ada orang membaca : Alif – Laam – Miim, orang tidak paham maknanya, tetapi tetap mendapat pahala dari Allah subhanahu wata’ala.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dalam Hadits menegaskan : Siapa yang membaca satu huruf di dalam AlQur’an, maka ia akan mendapatkan satu kali sepuluh kebaikan. Maka bila orang membaca Alif – Laam – Miim (tiga huruf), maka ia mendapat pahala tigapuluh kebaikan.

Demikian itu yang tidak paham akan maknanya, apalagi yang paham, menghayati, lalu mendakwahkan kepada orang lain, maka ia akan mendapat berlipat-lipat pahala dari Allah subhanahu wata’ala.

AlQur’an sampai kepada kita secara mutawatir bersambung terus menerus, yaitu dari Rasulullah saw kepada para sahabat, lalu kepada Tabi’in dan dari Tabi’in kepada Tabi’uttabi’in, dan seterusnya sampai kepada zaman kita saat ini.
Di antara ciri AlQur’an adalah tertulis pada Mushaf dari mulai Surat Al Fatihah sampai dengan Surat An Naas.

Maka deffinisi AlQur’an : Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam, bernilai sebagai Mu’jizat, bernilai ibadah ketika membacanya, sampai kepada kita secara mutawatir, terus-menerus tidak terputus, tertulis pada Mushaf-Mushaf, diawali Surat AlFatihah dan diakhiri dengan Surat An Naas.

Bagaimana AlQur’an sampai kepada kita.
AlQur’an tidak mungkin mengalami penambahan dan pengurangan, karena AlQur’an sampai kepada kita dengan dua cara :
1.     Dengan cara Talaqqi, dari lisan ke lisan.
2.     Dengan cara menuliskan, sejak zaman para sahabat.

Melalui Tulisan.
Ketika ayat-ayat AlQur’an diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw, lalu dismpaikan kepada para sahabat, oleh para sahabat dicatat dan dihafalkan.  Mencatatnya bukan hanya di kertas tetapi di permukaan apa saja, pelepah korma, kulit binatang, lempengan batu, kain jubah para sahabat, tulang-tulang, dst.
Para sahabat menuliskan, menghafalkannya berulang-ulang di hadapan Rasulullah saw , sehingga yakin tidak ada yang salah.

Para sahabat yang menulis dan menghafalkan ayat-ayat AlQur’an tidak langsung menyampaikan ke orang lain, tetapi membacakan kembali terlebih dahulu di hadapan Rasulullah saw supaya tidak ada yang keliru.  Sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Zaid bin Tsabith rodhiyallahu ‘anhu.

Dalam Hadits : Zaid bin Tsabith berkata : Aku selalu menulis di hadapan Rasulullah saw ketika wahyu turun. Ketika aku selesai menulis maka aku membacakan kembali hasil tulisanku di hadapan beliau, karena beliau menyuruh kami :”Bacalah lagi berulang-ulang”,  maka aku menyerahkan tulisanku itu kepada beliau,  bila ada hal-hal yang keliru beliau langsung membetulkan saat itu juga. Setelah dinytakan benar, maka aku keluar menyampaikan apa yang telah aku tulis dan menyampaikan kepada manusia”
Artinya,  dari orang pertama AlQur’an benar-benar ketat cara penjagaannya.

Yang menulis wahyu (AlQur’an) bukan hanya satu atau dua orang, melainkan banyak para sahabat Rasulullah saw. Selain Zaid bin Tsabith r.a. ada Ali bin Abi Thalib, ‘Utsman bin ‘Affan, Abubakar as Siddiq, Umar bin Khathab dan masih banyak lagi.  Kemudian ketika di Madinah ketika wahyu turun, lebih banyak lagi yang menulisnya.

Ketika di zaman Rasulullah AlQur’an tidak dibukukan, masih berupa lembaran-lembaran. Masing-masing para sahabat ada yang memegang tulisan Surat Al Baqarah, ada yang pegang Surat Al Fatihah saja, ada yang memegang catatan 20 Juz, bahkan ada yang memegang 30 Juz tetapi susunannya belum rapih.

Ketika Rasulullah saw wafat dan pada masa ke-Khalifahan Abubakar as Siddik r.a  terjadi peperangan terhadap orang-orang yang Murtad (keluar dari Islam), dan para penghafal AlQur’an banyak yang wafat, gugur di medan peperangan. Para ahli sejarah Islam mengatakan yang meninggal sekitar 700-an orang Syuhada.
Sehingga Umar bin Khathab r.a berinisiatif dan memberikan saran kepada Khalifah Abubakar as Siddiq agar segera mengumpulkan ayat-ayat AlQur’an, karena dikhawatirkan ada ayat-ayat yang tercecer, ada perubahana kalimat dst. maka hal itu tidak boleh dibiarkan.  Sementara itu para penghafal AlQur’an sudah semakin sedikit jumlahnya.

Maka ketika itu Khalifah Abubakar as Siddiq r.a. mengumpulkan seluruh sahabat yang hafal AlQur’an dan menyimpan catatannya. Kemudian dibentuk panitia penyusunan AlQur’an. Ketua Panitianya ditunjuk Zaid bin Tsabith r.a., orang yang paling banyak menulis wahyu (ayat-ayat AlQur’an).
Ternyata penjagaan terhadap AlQur’an ini sangat ketat. Mereka yang hafal tidak serta-merta hafalannya langsung ditulis kembali, tetapi syaratnya harus membawa lembaran tulisannya masing-masing. Jika ada seseorang hanya membawa lembaran catatannya saja dan tidak ada yang hafal selain yang membawa catatan itu, maka tulisan itu di tolak. Demi menjaga ke-aslian AlQur’an.

Ada yang hafal saja, tidak ada tulisannya, maka itupun ditolak, karena tidak mungkin AlQur’an tidak ditulis. Pasti ada yang menulisnya. Sampai akhirnya disepakati oleh para sahabat hingga terkumpul secara sempurna 30 Juz AlQur’an yang di awali dengan Surat Al Fatihah dan di akhiri dengan Surat An Naas.
Maka disalinlah seluruhnya, disusun dalam satu kitab  dan susunan catatan itu disimpan oleh Asmah putri Khalifah Abubakar as Siddiq r.a.

Ketika Khalifah Abubakar as Siddiq r.a wafat, maka kumpulan catatan yang semula disimpan oleh Asmah kemudian disimpan oleh Hafshah putrid Umar bin Khathab r.a dan selanjutnya ketika masa Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan r.a. terjadi hal yang mengejutkan, yaitu di sebagian tempat (daerah) kaum muslimin ada yang berbeda cara membacanya. Naskahnya sama yaitu AlQur’an 30 Juz yang sudah disepakati, tetapi ternyata sebagian kaum muslimin berbeda cara membacanya.

Misalnya dalam Surat Al Lail : Wama kholaqodzdzakaro wal untsa – sebagian kaum muslimin membacanya : Dzakaro wal untsa – tanpa Ma kholaqo.
Di lain ayat : Kal ‘ihnil manfus – sebagian kaum muslimin membacanya : Kassufil manfus.

Mengapa itu bisa tgerjadi, karena AlQur’an diturunkan dengan tujuh cara membaca yang berbeda. Maka kita pernah mendengar bacaan Murotal Surat Adh Dhuha :  Wadhdhuha wallaili idza saja – dibacanya: Wadhdhuhee wallaili idza sajee.  .Demikian masih banyak lagi cara membaca ayat yang berbeda ejaannya.

Tetapi demi kemaslahatan umat, maka Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan atas usul sahabat Hudzaifah r.a. mengatakan : Mushaf AlQur’an telah tersusun 30 Juz maka cara membacanya harus diseragamkan. Tidak boleh ada lafadz yang berbeda.  Maka dipilih cara membaca dengan ejaan yang paling banyak diamalkan dan dipilih yang paling fasih. Maka itulah yang ditulis dalam Mushaf AlQur’an, sehingga lafadz-lafadz yang lain dihilangkan (dimusnahkan).

Kemudian oleh Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan  Mushaf Induk itu dikirimkan ke beberapa wilayah (tempat) : Satu disimpan Madinah, satu dikirim ke Mekkah, dan masing-masing satu buah Kitab Mushaf dikirim ke Yaman, Bahrain, Bashrah, Kuffah, dan Syam.   Ada tujuh Salinan dan  itulah yang menjadi cikal-bakal Mushaf AlQur’an Kontemporer (Sampai kini).

Ketika masa Abubakar as Siddiq r.a  beliau tidak membatasi, selama itu datang dari Rasulullah saw maka silakan dibaca. Ketika masa Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan, bukan sekedar dikumpulkan tetapi dipilah-pilah lagi dan hanya boleh satu ejaan (satu kata) saja. Kata dan ejaan yang lain harus dimusnahkan (ditiadakan).

Karena pada masa Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan terjadi peperangan antar kaum muslimin hanya karena perbedaan Lafadz ketika membaca AlQur’an, maka demi menghindari fitnah yang lebih besar,  Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan memusnahkan Mushaf selain Mushaf yang telah disepakati oleh para sahabat.  Setelah itu Mushaf itu disalin dan dicetak sebagaimana Mushaf yang kita kenal sekarang.

Tetapi muncul persoalan baru lagi, yaitu Mushaf pada masa ‘Utsman bin ‘Affan tidak seperti Mushaf AlQur’an yang kita kenal sekarang.  Mushaf yang kita kenal sekarang huruf-hurufnya mudah dibaca, antara huruf satu dan lainnya sudah bisa dibedakan cara membacanya dengan tanda-tanda baca, dengan titik, baris dan harakat yang membedakan ejaan  a – i – u, dan panjang-pendeknya ejaan (Mad).
Mushaf AlQur’an zaman ketika itu tidak ada tanda bacanya, titik atau baris dan harakatnya.   Dan AlQur’an yang kita kenal dan kita gunakan sekarang adalah AlQur’an asli dari zaman ‘Utsman bin ‘Affan. Dan itu sudah diberi tanda-tanda baca bahwa sebagian Mushaf sudah diberi warna-warni, namun dari kita masih banyak yang tidak bisa membaca.  Kalaupun bisa, membacanya tidak lancar.

Kemudian muncul Ilmu Rasm dan Ilmu Dhabt.
Imu Rasm adalah ilmu yang mempelajari huruf demi huruf AlQur’an.
Ilmu Dhabt adalah ilmu yang mempelajari Tanda-Baca dari AlQur’an.

Sebetulnya inisiasi Tanda-Baca sudah dimulai ketika masa Abul Aswad Ad Du’ali. Kemudian AlQur’an diberikan tanda-baca oleh Imam Abul Aswad Ad Du’ali tetapi hanya terbatas pada tanda baca I’rab, supaya tidak salah makna.
Karena dalam AlQur’an,  harakat sangat berpengaruh pada makna. Misalnya Dhomah dan Fat-hah bisa berbeda makna.  Dengan dhomah yang bermakna subjek dan ketika dengan fat-hah menjadi objek.

Maka Abul Aswad Ad Du’ali menuliskan sebagian Tanda-Baca, yaitu suatu huruf diberi titik di atas (fat-hah) dan titik di bawah huruf (kasrah) dan dhomah titiknya di depan huruf. Tanda baca dobel berarti Tanwin. Itupun tidak semua huruf, hanya tempat-tempat yang berpotensi akan berubah makna bila salah membacanya.

Karena masih banyak juga yang salah baca, kemudian diberi tanda baca lagi oleh Imam Nashr bin ‘Ashim Thariq, yaitu diberi tanda I’jam (tanda-baca yang membedakan antara satu huruf dengan huruf yang lain. Misalnya : huruf Ba – Ta – Tsa  dengan tanda titi-titik di atasnya, misalnya  : Sin dan Syin dengan tanda baca titik-titik di atasnya. Dahulunya titik itu berupa garis, sekarang menjadi titik. Dan Harakat, dahulunya bukan garis tetapi titik.
Sampai akhirnya berupa Mushaf seperti yang kita kenal sekarang. Benar-benar terjaga keasliannya, baik dari sisi tulisannya maupun dari sisi bacaannya. Bahkan huruf-hurufnya terjaga, tidak ada penambahan dan pengurangan.
Demikianlah para Ulama menjaga AlQur’an dari sisi bacaan dan tulisannya.

Maka sejarah periwayatan AlQur’an dari sisi penulisan tersebut melahirkan dua cabang Ilmu : Ilmu Rasm dan Ilmu Dhabt. Sebagaimana disebutkan di atas.

Bagaimana AlQur’an sampai kepada kita melalui lisan.
Pertama, Malaikat Jibril menyampaikan wahyu (ayat-ayat AlQur’an) kepada Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam. lafadz, makna dan tafsirnya.
Kemudian Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan wahyu tersebut kepada Para Sahabat. Selanjutnya para sahabat membacakan kepada para Tabi’in (anak-anak para sahabat), kemudian para Tabi’in membacakan kepada para Tabi’uttabi’in (cucu para sahabat) dan para Tabi’uttabi’in meneruskan kepada generasi berikutnya sampai kepada kita.
Begitulah AlQur’an disampaikan dari lisan ke lisan.

Yang menarik adalah : Tidak semua para sahabat mengajarkan AlQur’an, terutama dari sisi cara membacanya. Rasulullah shollllahu ‘alaihi wasallam telah memilihkan sebagian para sahabat yang bisa dijadikan rekomendasi untuk belajar AlQur’an.    Rasulullah s.a.w. sendiri yang memberikan saran kepada sahabat siapa seseorang harus belajar AlQur’an. Misalnya dalam Hadits Shahih  disebutkan bahwa beliau menyarankan agar belajar AlQur’an kepada sahabat bernama Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu.     Juga disebutkan nama sahabat Salim bin Khudzaifah, ada lagi Zaid bin Tsabith, Ubay bin Ka’ab, Ali bin Abi Thalib, ‘Utsman bin ‘Affan. dst.

Tidak semua sahabat mengajar cara membaca AlQur’an. Para sahabat yang mengajarkan cara membaca AlQur’an adalah para sahabat “yang telalh lulus” cara membacanya dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Sahabat yang lain mungkin bisa, tetapi belum pada tingkat “terbaik”.
Namun demikian kenyataannya cara membaca AlQur’an masih ada yang berbeda meskipun sudah diseragamkan.  Misalnya di wilyah-wilayah Afrika, Maroko atau Aljazair,

Karena AlQur’an diturunkan dengan 7(tujuh) macam huruf (cara bacaan) yang berbeda, kemudian pada Masa Tabi’uttabi’in  muncul para Imam yang dijadikan rujukan, tetapi ternyata para Imam tersebut cara membacanya berbeda satu sama lain. Padahal Mushaf-nya sama, yaitu Mushaf ‘Utsmani (Mushaf Utsman bin ‘Affan). Maka dari sekian banyak Imam lalu diseleksi-lah oleh Imam Ibnu Mujahid, dan lahirlah 7(tujuh) Imam ditambah 3 (tiga) oleh Imam Al Jazari, ternyata sekarang telah disimpulkan oleh para Ulama bahwa AlQur’an yang shahih (Asli) cara membacanya harus mengikuti salah satu dari sepuluh (7+3) Imam tersebut di atas yang telah dinyatakan cara membaca AlQur’an adalah shahih, walaupun cara membacanya berbeda-beda.

Bahwa bacaan AlQur’an yang shahih harus merujuk salah-satu dari sepuluh Imam tersebut di atas, kalau ada orang membaca AlQur’an keluar dari sepuluh Imam tersebut, maka bacaannya dianggap Shagh (tidak sah).

Ternyata bacaan AlQur’an yang ada saat ini di seluruh dunia 90% mengikuti bacaan Imam ‘Ashim. Beliau punya dua murid yang terkenal : Imam Syu’bah dan Imam Hafs.  Ternyata bacaan kedua murid itu berbeda. Lalu kita ikut Imam yang mana ? Ikutlah Imam Hafs, salah seorang murid Imam ‘Ashim.

Dalil bahwa AlQur’an diturunkan dengan 7 (tujuh) macam bacaan yang berbeda, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, disepakati keshahihan Haditsnya, Rasulullah saw bersabda : “Jibril membacakan AlQur’an kepadaku dengan satu huruf bacaan, kemudian aku mengulanginya tujuh kali, sehingga satu ayat bisa tujuh macam cara membacanya”.  

Ketika Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasalam membacakan kepada para sahabat, beliau tidak membacakan semuanya, melainkan mengajarkan cara yang beliau anggap paling mudah menurut para sahabat yang asal Kabilahnya berbeda-beda.
Akhirnya AlQur’an yang sampai kepada kita banyak sekali variasi cara membaca-nya. Namun tidak boleh keluar dari sepuluh cara Imam yang disebutkan di atas.

Kenapa cara bacaan yang berbeda masih bertahan sampai sekarang ?
Karena :
1.     Rasm Utsmani bersifat Muhtamal (Cara membaca huruf yang berbeda)
2.     Para sahabat menerima perbedaan cara membacanya dari Rasulullah saw.
3.     Standar ke-fasihan setiap Kabilah berbeda-beda.

Standar bacaan AlQur’an dilihat dengan 3 hal  menurut para Ulama  sebagaimana disampaikan oleh Ibnul Jazari :
1.     Memenuhi standar bahasa Arab yang fasih.
2.     Harus sesuai Rasm Utsmani
3.     Sanad-nya shahih.  

Tiga rukun tersebut yang kemudian menjadi standar apakah bacaan AlQur’an itu diterima atau tidak dan para Ulama kemudian menyeleksi ada 10 Imam yang masing-masing punya dua orang  murid yang dipilih dan memenuhi standar, yaitu:
1.     Imam Nafi’ murid dari Imam Qalun dan Warsy
2.   Imam Ibnu Katsir Murid dari Al Bihzi dan Kunbul (Bukan Ibnu Katsir Ahli Tasir AlQur’an).
3.     Abu Amr, murid dari Ad Duri dan   Assusi.
4.  Ibnu Amir, Hisyam Ibnu Dzakwan, murid dari Imam ‘Asim (yang kita ambil sebagai contoh bacaan kita).
5.     Hamzah,
6.     Khalad dan Khallas,
7.     Al Kisa’i, murid dari Abul Kharis ad Duri,
8.     Abu Ja’far , murid dari Ibnu Wardan dan Ibnu Jammaz
9.     Ya’qub Ruwais,
10.   Rauh - Khollaf, murid dari Ishaq dan Idris.

Sepuluh Imam tersebut yang bacaannya telah memenuhi tiga rukun sebagaimana disebut di atas. (Bahasa Arab yang Fasih, sesuai dengan standar ‘Utsmani dan Sanadnya shahih). Kita tinggal memilih saja, silakan semuanya boleh, tetapi ke-umuman kaum muslimin sedunia adalah cara Imam Hafs, murid Imam ‘Ashim.

Kaidah (tatacara) membaca AlQur’an yang sesuai menurut Imam’Ahsim adalah yang tercantum dalam Kitab Matan Syatibiyah yang ditulis oleh Imam Asy Syatibi.

Demikianlah paparan tentang periwayatan AlQur’an sehingga melahirkan kecintaan terhadap AlQur’an. dan kita yakin bahwa AlQur’an tidak mungkin bisa diubah sedikitpun, baik dari sisi tulisan maupun bacaannya.

Harapannya, kita bisa lebih semangat lagi dalam belajar membaca AlQur’an sesuai dengan yang diriwayatkan oleh para Imam. Bukan sekadar sesuai dengan perasaan kita, sepertinya enak, sepertinya sudah benar. Bagaimana agar bacaan kita benar-benar sesuai dengan jalur riwayat yang shahih.  . Karena selama ini kebanyakan orang tidak faham sesuaikah bacaan AlQur’annya dengan jalur sanad yang shahih?.  Itulah PR kita.
Demikianlah bahasan, mudah-mudahan yang serba sedikit ini bisa bermanfaat.
SUBHANAKALLAHUMMA WABIHAMDIKA ASYHADU AN LAILAHA ILLA ANTA,  ASTAGHFIRUKA WA ATUBU ILAIK

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

No comments:

Post a Comment